Playboy Kardus

Mahrezben
Chapter #1

BAB 1: Raja Terakhir

"Andiiiiii, bangun lo! Udah siang masih molor aja lo kerjaannya! Anterin kerjaan lo tuh, jangan nunggu bapak lo marah baru dianterin!"


Teriakan Emak gue memecah keheningan pagi, tepat dari balik jendela kamar. Nggak tanggung-tanggung, seruan melengking itu disusul gedoran bertubi-tubi di kaca jendela yang bikin seluruh ruangan bergetar.


Impian indah gue yang lagi jalan bergandengan tangan bareng Gal Gadot menyusuri jalanan kota Tangerang Selatan langsung ambyar seketika.


Sialan.


Gal Gadot gue lenyap, diganti wujud Emak yang berkacak pinggang dengan daster batik andalannya.


Bagi pemuda produktif seperti gue, teriakan itu adalah sarapan pagi yang paling instan-semacam asupan energi paksa untuk memulai aktivitas penuh cobaan seharian ini.


"Iya, Mak. Bentar, mandi dulu," jawab gue setengah sadar.


Gue berusaha menegakkan punggung, berniat mengambil posisi duduk di tepi kasur busa yang per-nya sudah mulai mencuat menusuk pinggang.


Tapi dasar nyawa gue belum terkumpul genap seratus persen, mata gue merem lagi.


Posisi badan gue tegak, tapi kesadaran gue melayang kembali ke sisa-sisa bayangan Gal Gadot tadi.


"Astaga ini anak! Malah tidur sambil duduk! Bangun!"


Pletak!


Satu toyoran telak mendarat dengan sukses di ubun-ubun gue. Tangan Emak berhasil menyelinap lewat celah jendela yang terbuka. Sungguh sebuah akurasi serangan yang luar biasa yang di lancarkan dari sisi kanan rumah.


"Iya-iyaaa, Mak! Ini udah bangun!" seru gue sambil mengusap kepala yang agak delay karena berdenyut. Gue langsung buru-buru berdiri sebelum ada serangan susulan.


Cobaan hidup kadang ga bisa diduga.


Begitu gue melangkah keluar kamar sambil menenteng handuk, pemandangan di depan lorong langsung bikin perut gue kram.


Kamar mandi di rumah gue cuma ada dua. Sementara populasi manusia di dalam rumah ini ada delapan: Emak, Bapak, dua abang gue yang badannya kayak kuli, gue sendiri, plus tiga adek gue yang masih pada piyik.

Lihat selengkapnya