Pemberhentian gue berikutnya setelah keos di bengkel adalah studio musik sewaan di daerah Ciputat. Sebagai vokalis andalan The Funkys—nama band kami yang kedengarannya keren tapi aslinya gak ada keren-kerennya karena insiden gigi palsu gua copot —gue dituntut untuk selalu tampil prima, energik, dan penuh karisma. Tapi hari ini, aura vokalis premium gue rontok. Gue masuk ke dalam studio dengan langkah gontai dan muka sekusam kain lap bengkel.
Di dalam studio, Riza udah standby duluan. Dia lagi duduk bersila di lantai sambil nyetem gitar kesayangannya. Sebagai gitaris yang juga kerja di dunia event organizer, hidup Riza emang kelihatan lebih tertata dibanding gue, meskipun kami sama-sama anak keluarga sederhana.
Gue langsung menghempaskan badan ke sofa busa studio yang udah robek-robek. Gue menghela napas panjang, sengaja biar Riza nanya dan peduli dengan keadaan gue.
Riza mendongak, menatap gue datar. "Napa lo, Ndi? Muka lo berantakan gitu. Kusut banget."
"Gaji gue dipotong Bos sialan, Za," keluh gue memelas, sambil nutupin muka pake topi snapback. "Sialan banget emang si neng matic kemarin. Gara-gara drama oli ghaib, dompet gue sekarang resmi mengalami masa resesi ekonomi."
Riza malah ketawa ngikik, nggak ada empati-empatinya sama sekali. "Ya lagian lo bego, jadi mekanik. Ganti oli malah sibuk tebar pesona. Terus sekarang lo pusing kenapa? Takut nggak bisa beli rokok?"
"Bukan rokok, Za! Ini masalah harga diri!" Gue langsung menegakkan duduk. "Gue udah janjian malam minggu ini mau jalan sama Mela. Lo bayangin, vokalis The Funkys jalan sama cewek tapi isi dompetnya cuma sisa selembar Pattimura! Mau gue kasih Aqua gelas itu anak orang?"
Riza menghentikan petikan gitarnya, matanya menyipit mengingat-ingat. "Mela? Mela yang mana lagi? Oh... cewek yang waktu itu lo bawa pas kita tour gigs The Funkys ke Sukabumi ya?"
"Nah, bener! Itu dia!"
Riza menggeleng-gelengkan kepala. "Buset, ganti pacar lagi aja lo? Perasaan sebelum ke Sukabumi, lo masih nempelnya sama Riska. Itu zaman-zamannya gue belum putus sama Dini kan?"
"Ah, lo mah membongkar manuskrip purbakala!" gerutu gue, agak salah tingkah kalau diingetin soal Riska. "Sama Riska kan udah end pasca-insiden salah kirim chat. Sekarang fokus gue ke Mela. Tapi takdir lagi hobi bercanda, pas gue udah pasang gigi palsu biar makin ganteng depan Mela, duit gue malah dikuras Bang Topik."
Sebelum Riza sempat menceramahi gue lebih jauh soal kesetiaan dan manajemen keuangan, pintu studio digebrak dari luar.
Brak!
Sesosok manusia berbadan subur masuk dengan napas terengah-engah sambil nenteng tas berisi stik drum dan snare. Itu Hari, drummer kami. Hari ini statusnya adalah pengangguran terdidik alias mahasiswa yang baru banget lulus kuliah. Tapi alih-alih bahagia karena dapet gelar sarjana, muka Hari justru kelihatan kayak orang yang siap perang di gurun pasir.
Tanpa ngomong sepatah kata pun, Hari langsung duduk di balik set drum studio, mengambil stik, dan langsung menggebuk simbal dan snare dengan kekuatan penuh.