Anak-anak panik. Di tengah kepulan asap belerang yang mulai menipis di halaman belakang rumah Agung, kesadaran kami mendadak pulih. Masalahnya, di dekat kami saat itu kagak ada satu pun yang lulusan kedokteran, apalagi keperawatan. Tapi dalam hitungan detik, insting kepepet mengubah kami semua menjadi dokter spesialis dadakan.
Begitu mendekat dan melihat lokasi serangan petasan di pantat Bisri, semua anak langsung merinding pasrah. Celana bahan bagian belakangnya robek membentuk pola abstrak bin gosong, menyisakan kulit yang memerah kepanasan.
"Astaga, parah banget ini! Cepet-cepet kasih minyak!" teriak Sony, langsung ngasih diagnosis pertama ala pengobatan alternatif universal.
"Cepet! Cepet!" suara gue mulai ikut-ikutan tegang. Padahal semenit yang lalu perut gue sampai sakit gara-gara kebanyakan ketawa.
Nggak tahu dapat wangsit dari mana, tiba-tiba ada yang berlari membawa jerigen kecil, lalu tanpa ba-bi-bu langsung menyiram pantat Bisri pakai minyak tanah yang tadinya disiapin buat ngebakar arang.
"Woi, panas, bego! Panassss!! Air, woi, aiiir!" jerit Bisri, badannya ngegeliat dahsyat di atas rumput kayak cacing kepanasan.
Melihat korban makin histeris, Rully langsung berteriak menimpali, "Bukan minyak tanah, tolol! Minyak sayur maksudnya!"
Kepanikan makin naik satu strip. Saking nggak pakai pikir panjangnya, ada anak yang langsung menyambar wadah dari meja piring dekat bakaran ayam, lalu langsung menyiramkannya ke area luka Bisri. Begitu cairan itu mendarat pekat, barulah kami semua sadar kalau cairan di dalam wadah itu adalah minyak sayur yang udah dicampur kecap manis sisa bumbu olesan ayam.
Gue yang melihat pemandangan itu cuma bisa mengelus dada. Resmi sudah, malam ini pantat Bisri sedang dieksplorasi buat dijadikan hidangan penutup malam tahun baru. Tinggal dikasih taburan bawang goreng sama perasan jeruk nipis, matang sempurna itu pantat!
Dilema Orang Tua Killer
Di tengah-tengah erangan penderitaan dan perjuangan hidup mati Bisri, sebuah kenyataan pahit mendadak menampar kesadaran kami yang lagi sok-sokan jadi tim medis.
"Eh... bentar. Ini si Bisri mau kita bawa ke mana?" tanya Agung, mukanya mendadak pucat pasi. "Bapaknya kan terkenal killer ama galak parah!"
"Gue gak ikut-ikutan kalau ini ya! Lo aja yang nemuin bokapnya nanti!" sahut gue cepat, berusaha menyelamatkan diri agar tidak terlibat lebih jauh.
Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, kalau masalah ini diselidiki sampai akar-akarnya, gue udah pasti bakal jadi tersangka utama. Siapa lagi yang jadi tengkulak penyalur barang bukti 100 biji petasan korek maut itu kalau bukan gue? Amsyong!
Semua anak langsung terdiam, saling lirik satu sama lain. Ketakutan kami sama bapaknya Bisri mendadak mengalahkan rasa kasihan kami pada pantat anaknya. Kami mulai bingung setengah mati menyusun alasan apa yang masuk akal kalau nanti harus mengantar Bisri pulang ke rumahnya dalam kondisi pantat semi-matang begini. Masa iya mau jujur bilang kalau anaknya habis ngebom pantat sendiri?
Sementara kami sibuk berdebat, Bisri cuma bisa merintih lemas dengan posisi tiarap. "Aduuuhhh... perihhh, Ndi... buruan napa, ini pantat gue kayak ditempel catokan rambut..."
"Udah-udah, gotong aja dulu! Jalan kaki pelan-pelan lewat gang samping!" perintah gue mengambil keputusan.
Anak-anak langsung bahu-membahu membopong tubuh subur Bisri. Kami berjalan perlahan menembus kegelapan malam. Baru jalan sekitar lima puluh meter, Bisri mendadak mogok. Badannya merosot ke tanah.