Playboy Kardus

Mahrezben
Chapter #6

BAB 6: Terompet Naga

"Halo, Ndi! Lo di mana sih?! Ini udah jam berapa?! Katanya jam sebelas lewat dikit udah sampe!" Suara Mela di seberang telepon langsung menusuk gendang telinga gue, saking melengkingnya sampai getarannya berasa ke jempol kaki gue yang masih cantengan.

"Iya, Mel, ini otw, ini otw! Tadi ada... anu, ada musibah bom bunuh diri di komplek gue. Ini gue udah pasang gigi lima, bentar lagi sampe depan rumah lo!" cerocos gue sambil tangan kiri megang HP di kuping, sementara tangan kanan meliuk-liuk mindahin stang motor bebek gue.

Gue gak bohong soal ngebut. Motor bebek kesayangan gue dipaksa lari kesetanan membelah jalanan Ciputat yang mulai dipenuhi lautan manusia berbaju santai dan anak-anak kecil yang sibuk niup terompet plastik yang bikin kuping budek. Pikiran gue berkecamuk antara takut digebuk bokapnya Bisri pake gayung kalau ketahuan gue penyuplai petasan, sama takut dilempar Mela pake sandal wedges karena telat jemput.

Begitu sampai di depan gang rumah Mela, dia udah berdiri tegak sambil melipat kedua tangannya di dada. Mukanya ditekuk mirip kue dongkal, cemberut, tapi jujur... tetep kelihatan manis. Malam ini dia dandan rapi, pakai jaket jip dan wangi parfumnya bahkan bisa mengalahkan bau belerang petasan yang masih nempel di baju gue.

"Lama banget sih, Ndi! Keburu ganti tahun ini mah!" omel Mela sambil buru-buru naik ke jok belakang motor gue.

"Maaf, Mel, tadi ban motor gue agak kurang angin... terus ada urusan kemanusiaan dikit," kilat gue, pura-pura masang muka bersalah demi menjaga stabilitas keamanan asmara yang meronta-ronta. "Tenang, malam ini kan malam milik kita berdua. Sesuai rencana, gue bakal bawa lo keliling Monas sampe mutah-muntah. Kita liat kembang api paling gede se-Jakarta Pusat!"

Mela yang tadinya cemberut langsung agak melunak. "Beneran ke Monas? Cukup emang bensinnya?"

"Ya cukuplah! Otak pialang saham gue udah memperhitungkan semuanya," jawab gue bangga. Padahal dalam hati..., gue terus merapalkan amalan dan doa yang diwarisiin sama engkong gue perihal jalan sama demenan. Semoga uang hasil untung bersih jualan petasan korek tadi cukup buat beli bensin eceran dan jajan sempol di jalan.

Gue pun memutar gas sedalam mungkin, bersiap meluncur menuju ibu kota.

Selamat Datang di Neraka Aspal Bintaro

Rencana awal gue emang kelihatan megah: lewat Rempoa, tembus Pondok Indah, lalu lurus terus sampai Monas. Tapi, manusia boleh berencana, jalur lalu lintas malam tahun baru yang menentukan.

Baru juga motor gue menggelinding masuk ke kawasan Bintaro, atmosfer romantis yang baru mau gue bangun langsung hancur berkeping-keping.

TIIIIITTTTTT! HOOOONKKKK!

TET-TOOOOOT! TET-TOOOOOOT!

Anjing! Suara terompet naga-nagaan persis ada di sebelah gue!

Lihat selengkapnya