Gue langsung tancap gas membelah sisa-sisa kemacetan Bintaro yang mulai mengurai pasca-pukul dua belas malam. Di atas motor, gue udah ngebayangin empuknya daging barbekyu premium di rumah Riky yang siap menyelamatkan harga diri gue di depan Mela.
Tapi baru juga jalan sekitar dua kilometer, petaka baru muncul dari jok belakang. Mela mendadak gelisah. Tangannya yang tadinya pegangan di pinggang gue, sekarang malah meremas jaket gue kencang banget.
"Ndi... Ndi, berhenti dulu dong di pom bensin atau apa gitu," bisik Mela, suaranya kedengaran bergetar seperti nahan beban hidup.
"Kenapa, Mel? Bensin masih aman kok, tenang aja," jawab gue santai.
"Bukan bensin, kandung kemih gue! Gue kebelet pengen pipis ini, udah di ujung tanduk!" seru Mela, setengah merengek.
Gue melirik spion. Di belakang kagak ada pom bensin, yang ada cuma ruko-ruko tutup dan gelap. Kalau gue biarkan Mela pipis di kebon orang, citra joki aspal keren gue bisa turun pangkat jadi joki toilet umum.
"Aduh, Mel, tunda dulu pipisnya! Tahan sebentar, tanggung banget ini bentar lagi kita sampe rumah Riky. Rumah dia mah WC-nya ada lima, lo mau pipis sambil kayang juga bebas di sana. Tahan ya, tarik napas, embuskan, terus ulangi!" kata gue mencoba menenangkan, sambil tangan kanan memutar gas motor makin dalam.
Mela cuma bisa pasrah, duduk tegak lurus sambil komat-kamit merapalkan doa sambil nahan pipis sepanjang sisa perjalanan.
Pesta Barbekyu Istana Riky
Begitu motor gue berbelok masuk ke gerbang rumah Riky, kemewahan langsung menyambut kami. Halaman belakang rumah Riky ini emang gede banget, mirip lapangan futsal komplek, lengkap dengan sebuah gazebo kayu berukuran raksasa di pojokannya. Lampu-lampu hias warna kuning menggantung estetik, membuat suasana malam tahun baru di sini berasa kayak pesta orang-orang kaya di TV.
Aroma daging sapi yang dipanggang di atas arang langsung menusuk hidung gue. Cacing di perut gue otomatis langsung demo minta jatah.
Gue memarkirkan motor, dan Mela langsung melompat turun tanpa babibu. "Ndi, WC di mana?!"
"Tuh, masuk lewat pintu kaca, lurus aja!" tunjuk gue ke arah pos security rumah Riky. Mela langsung lari tunggang langgang layaknya Husain Bolt, menyisakan gue yang berjalan santai menghampiri kerumunan anak-anak The Funkys.
Suasana halaman belakang malam itu bener-bener ramai dan hangat:
Riky & Zia: Si tuan rumah yang kaya raya lagi duduk santai berduaan di kursi lipat outdoor, kelihatan mesra banget kayak pasangan drakor di Netflix.
Ina & Riza: Mereka berdua lagi berdiri di depan alat pemanggang besar. Ina kelihatan manja banget nyender ke bahu Riza sambil sesekali membalik daging barbekyu yang ngebul hebat. Padahal habis galau nangis kejer di tinggalin Ina kemaren.
Indri & Riza: Eh, maksud gue Indri juga lagi sibuk di sana, bantuin Riza dan Ina buat nyiapin bumbu-bumbu olesan tambahan biar makin meresap.