Suasana di halaman belakang rumah Riky makin cair. Mela yang tadinya canggung, sekarang sudah asyik mengobrol dengan Zia, Ina, dan Indri. Ternyata mereka masih ingat betul saat Mela ikutan tour gigs The Funkys di Sukabumi dulu. Beban kecanggungan Mela resmi menguap, digantikan oleh gelak tawa.
Gue merasa di atas angin, merasa sudah berhasil jadi "pelindung" yang sukses membawa Mela ke pesta eksklusif ini. Tapi, ketenangan itu cuma bertahan lima menit sampai Riky, si tuan rumah, melemparkan serangan mautnya.
"Ndi," panggil Riky dengan nada sok manis yang gue udah tahu arahnya. "Gimana kabarnya gigi depan lo yang empat biji itu? Masih aman kan? Nggak ada yang goyang pas dipake buat ngunyah daging barbekyu premium ini?"
Mela langsung menoleh, matanya membelalak. "Gigi palsu? Maksudnya gimana?"
Gue menelan ludah. Riky emang nggak tahu tempat kalau mau buka aibv orang. Gue pun terpaksa jujur dengan nada yang berusaha gue dramatisir agar terlihat cool. "Mel, kalau lo pernah baca novel MEMELUK PENDOSA, lo bakal paham. Gigi ini bukan cuma soal kecerobohan. Ini harga yang harus gue bayar buat dosa-dosa masa lalu gue."
Suasana mendadak hening. Anak-anak band yang tadinya sibuk manggang langsung menoleh.
Gue melanjutkan dengan tatapan kosong ke arah bara arang yang mulai memutih, "Dulu, waktu Riza baru jadian sama Dini, gue diajak mabuk sama dia. Pas rokok gue habis, gue jalan ke warung. Gak taunya rokok masih ada dan diumpetin sama Dedi kampret, temen komplek yang otaknya setengah. Gue berangkat ke warung dalam keadaan linglung naik motor, terus nyungsep nabrak tiang listrik. Alhasil gigi depan gue hancur, rontok empat biji sekaligus."
"Dini?" Ina langsung memicingkan mata tajam ke arah Riza. Cubit! Ina mendaratkan cubitan maut di perut Riza.
"Aduh! Sakit!" teriak Riza. "Buset, masih aja dibahas, itu artefak kuno!"
"Eh... keceplosan, maaf-maaf. Maaf ya Ina," potong gue cepat, sengaja mengalihkan perhatian. Ina mendengus, lalu langsung ngusel-ngusel ke ketek Riza—mirip anak marmut berebut ASI induknya. Riza yang masih dendam karena dicubit, menyambar dengan tawa sinis untuk membalas gue. "Dan lo tahu, Mel? Pas festival band di BSD dulu, lagi joget manggut-manggut, gigi Andi copot mendarat manis di lantai panggung. Andi-nya tetep nyanyi, tapi vokalnya jadi kayak orang kedinginan karena ada lubang angin di gusinya!"
"Wah, parah," sahut Hari sambil mengunyah daging dengan rakus. "Lo ciuman sama Andi nggak takut ngempos, Mel? Itu gigi palsu kalau nggak sengaja ketelen gimana? Bahaya buat pencernaan lo!"
Mela cuma bisa geleng-geleng kepala melihat keributan itu. Gue yang tadi mau tampil sok keren sebagai "bos vokalis," sekarang malah jadi bahan tertawaan publik.
Telepon dari "Dua Lubang"
Di tengah riuhnya suasana, HP gue berbunyi. Agung nelpon.
"Lo di mana, Ndi?" tanya Agung.