Pagi buta, tepat saat matahari bahkan belum niat untuk terbit, HP gue sudah meraung-raung. Nama Agung terpampang di layar. Gue mengumpat dalam hati, lalu mengangkatnya dengan suara parau.
"Ndi! Bangun, kampret! Bisri udah nangis-nangis, pantatnya makin nyut-nyutan katanya!" teriak Agung di seberang sana.
"Masih pagi, Gung! Kenapa sekarang jadi mendadak?!"
"Dia nggak bisa tidur! Bolak-balik mau duduk nggak bisa, mau tiduran kena pantat. Buruan ke sini, bawa mobil nih!"
Gue pun sampai di rumah Bisri dengan mata bengkak dan nyawa yang belum kumpul sepenuhnya. Tapi, pemandangan di depan rumah Bisri bikin gue langsung full sadar. Nggak ada mobil SUV atau sedan. Yang ada cuma mobil pickup tua milik bapaknya Agung yang bak belakangnya terbuka lebar.
Gue melihat kerumunan teman-teman—Sony, Agung, Rully, Jujun dan sebagian saksi bisu yang menyaksikan tragedi itu secara langsung—sudah siap sedia dengan muka bantalnya. Gue menatap mereka dengan tatapan tak percaya.
"Oi, ngapain banyak-banyak orang sih?" tanya gue sambil menunjuk rombongan itu. "Ini nganter orang berobat ke UGD, bukan nganter orang berangkat haji! Gak usah rame-rame, mana pake acara iring-iringan segala!"
"Ya biar rame, Ndi. Kasihan Bisri, biar mentalnya kuat," jawab Sony enteng.
Gue mendesah panjang. Sialan.
Tantangan berikutnya: Bisri. Karena pantatnya yang terkena ledakan itu, dia benar-benar tidak bisa duduk. Kalau dipaksakan duduk, bisa-bisa luka itu makin lebar. Akhirnya, kami terpaksa membentangkan karpet bulu di atas bak mobil pickup, lalu membaringkan Bisri dalam posisi tengkurap. Dia hanya dibalut kain sarung, persis kayak orang habis di terapi.
Bisri dengan posisi tengkurap, kepalanya menempel di pinggiran bak, sementara rombongan orang-orang tidak berguna ini duduk melingkar di sekelilingnya di atas bak pickup yang terbuka. Kalau dilihat dari jauh, ini benar-benar mirip tim ahli di kebun binatang yang lagi mindahin anjing laut ke kolam yang baru.
"Ndi, pelan-pelan ya!" teriak Bisri dari balik bak, suaranya teredam angin. "Kalau lo ngerem mendadak, pantat gue bisa kena g-force!"
"Berisik lo, anjing laut!" balas gue sambil menginjak pedal gas.
Sepanjang perjalanan, cobaan Bisri belum usai. Shockbreaker mobil pickup bapaknya Agung ini sudah mati suri, kerasnya minta ampun. Begitu ketemu "polisi tidur" yang tingginya nggak ngotak, gue telat ngerem.