Please Love Me

Amellia San
Chapter #1

Piano dan Kesendirian

“Non Aussie cantik sekali,” puji Bi Sumi saat melihat Aussie yang baru saja menuruni tangga. 

Hentakan langkah kaki gadis itu sarat kekesalan. Wajah Aussie tampak cemberut. Kontras dengan wajahnya yang rupawan. Paras Pram, ayahnya, tercetak sempurna di sana.

Aussie mengenakan gaun tanpa lengan berwarna hitam. Rambutnya digerai. Pita putih besar menghiasi rambut panjangnya yang lurus.

“Mama mana?” tanya Aussie dengan ketus.

“Ibu lagi di kamar, Non,” jawab Bi Sumi. “Sepertinya Ibu tidur, Non. Dari tadi Ibu muntah-muntah terus.” Saat menjelaskan keadaan nyonya rumahnya, Bi Sumi berusaha mengatakannya dengan nada penuh kehati-hatian. Karena sejak nyonya rumahnya mengandung, Aussie lebih sering marah-marah.

“Oh,” balas Aussie. Hatinya semakin kesal. “Sudah tahu usia Mama nggak muda lagi. Tetap saja Mama keras kepala,” gerutunya sambil bersedekap. Bibirnya semakin merengut.

“Non, mau berangkat lomba, ya?” tanya Bi Sumi makin khawatir.

“Iya,” desah Aussie malas karena merasa tidak ada yang peduli dengannya. “Pak Hadi sudah standby, kan?”

Pertanyaan itu yang sejak tadi membuat Bi Sumi gelisah. Pak Hadi, sopir yang bekerja di rumah ini tadi buru-buru pergi setelah mendapat telepon dari Pak Pram, tuan rumah.

“Pak Hadi tadi ditelpon sama Bapak, Non, katanya disuruh jemput Bapak ke pabrik,” jawab Bi Sumi dengan berat hati.

“Gimana, sih?” Aussie berdecak semakin kesal. Kakinya menghentak-hentak ke lantai. “Papa sama Mama sama saja. Nggak ada yang peduli sama aku,” katanya kesal. “Mana kunci mobilku? Cepat!”

“Non Aussie,” Bi Sum mengusap lembut bahu nona mudanya. “Bapak, kan, nggak mengizinkan Non bawa mobil sendiri. Non, pesan taksi saja, ya.”

“Kelamaan!” Aussie mengepalkan kedua tangan dengan keras. Di usianya yang masih enam belas tahun, seperti remaja pada umumnya, emosinya sering meledak-ledak. “Cepetan, mana kunci mobilku!”

“Tapi, Non. Non nggak boleh—-”

“CEPAT!”

“Non Aussie izin Bapak dulu saja, gimana?”

“NGGAK MAU!” teriak Aussie semakin keras. “AKU HAMPIR TERLAMBAT.”

“Non Aussie, Bi Sum ikut, ya. Biar Bibi temani Non,” tawar Bi Sumi dengan nada lembut.

“Nggak usah. Bibi temenin Mama aja,” balas Aussie. “Dasar Mama penyakitan. Padahal, aku nggak mau punya adik,” gerutunya semakin kesal.

“Non Aussie jangan begitu sama Ibu. Ibu sayang sama Non. Kalo Ibu sehat, Ibu pasti menemani Non.”

“Halah. Omong kosong!”

Bi Sumi langsung mengucap istighfar. 

Lihat selengkapnya