“First Runner-Up untuk kategori Senior, Aussie Lucyanna Sasmita.”
Aussie terkejut saat namanya dipanggil. Ada rasa sesak di dadanya. Kenapa ia gagal menjadi juara satu? Kenapa? Ia hanya bisa meneriakkan kekesalannya dalam hati. Tapi, ia harus bisa tersenyum saat naik ke panggung, ketika menerima piala juara dua bersamaan dengan buket bunga yang indah.
Dari atas panggung, Aussie bisa melihat Tari berdiri dan tersenyum padanya. Wajah mamanya tampak pucat. Baju yang dikenakan tampak seadanya. Tidak seperti ibu-ibu lainnya. Blazer yang dikenakan wanita itu lumayan menyelamatkan penampilan.
“Selamat, ya, Sayang,” ucap Tari saat acara kompetisi piano berakhir. Tampak Aussie masih merengut. Dengan lembut ia menangkup kedua pipi Aussie. “Mama percaya, nanti Aussie bisa juara satu.”
“Coba kalo Papa sama Mama datang dan support aku. Aku pasti juara satu,” balas Aussie dengan kesal, lalu menjauhkan diri dari mamanya. Rasa kesalnya masih menguasai. Ia melempar buket bunga ke dada mamanya. “Aku benci Mama dan Papa.”
Aussie meninggalkan mamanya begitu saja.
“Aussie. Sayang. Aussie,” panggil Tari yang sayangnya tidak digubris oleh putrinya. Masih dengan kepala yang pusing, Tari berjongkok dengan hati-hati untuk mengambil buket bunga yang tergeletak di lantai lobi hotel.
“Aussie,” panggil Tari lagi dengan suara pelan. Putrinya tampak sudah berjalan jauh darinya. Dengan kekuatan yang tersisa, Tari mengayun langkah lebih cepat. “Aussie. Tunggu.”
“Ya Tuhan. Tolong beri aku kesempatan untuk menyusulnya,” kata Tari dengan hati yang teguh. Tampak dari kejauhan Aussie tetap berdiri di tempatnya karena terhalang oleh kerumunan pengunjung yang baru turun dari bus pariwisata.
Telapak kirinya memegang perut bawahnya, refleks melindungi calon adik Aussie. Sedangkan tangan kanannya merangkul buket bunga yang cukup besar. Bagi Tari, buket itu sangat berharga. Hadiah atas kemampuan piano putri semata wayangnya.
Tanpa ada keraguan, Tari berjalan dua kali lebih cepat agar bisa menyusul putri yang ia sayangi. “Aussie. Tunggu, Sayang.”
Bantuan dari Tuhan nyatanya datang. Tari akhirnya bisa menyusul putrinya. Ia memindahkan buket bunga ke tangan satunya, agar bisa meraih tubuh Aussie. “Aussie, ayo kita pulang sama-sama,” katanya lembut. “Aussie mau makan sama Mama berdua di sini?” tawarnya.
Aussie melepaskan tangan mamanya sebelum berbalik, menatap wajah pucat wanita itu. “Nggak usah. Nanti Mama muntah lagi. Malu-maluin aja,” protesnya dengan bibir merengut.
Tari menangkup pipi putrinya dengan satu tangan. Meski, hatinya terasa perih oleh kata-kata putrinya. “Ya sudah, kita pulang sama-sama, ya.”
“Mama naik taksi saja,” kata Aussie, lalu membuang pandangan ke arah lain. “Aku mau jalan-jalan sendiri.”
“Mama ikut jalan-jalan sama kamu kalau begitu,” ujar Tari sambil tersenyum. Sebagai ibu, ia tahu Aussie sangat membencinya sejak ia mengandung anak ketiga. Meski, ia dan Pram sangat menanti kehadiran anak ketiga sejak lama. Ternyata Aussie tidak menyambut kehadiran calon adiknya.
“Aku mau ngebut. Kalo Mama masih ingin hidup. Lebih baik Mama naik taksi aja!”
Air matanya jatuh saat mendengar kata-kata Aussie barusan. “Aussie, Mama sayang sama Aussie,” uca Tari, lalu memeluk Aussie dengan satu tangan. “Rasa sayang Mama ke Aussie lebih besar. Sangat besar. Aussie percaya, kan, sama Mama?”
“Enggak. Aussie nggak percaya,” balas Aussie sambil menggelengkan kepala.
“Ayo, kita pulang sama-sama,” ajak Tari, lalu mengurai pelukan. Ia kecup kening Aussie dengan lembut. “Kita pergi berdua lagi seperti biasanya. Mau, ya, Sayang?”
Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Aussie. Bibir gadis remaja itu masih merengut. Tari tetap bersyukur. Setidaknya, Aussie tidak melepas tangannya yang kini menggenggam jemari putri semata wayangnya.
Mereka berjalan bersama–berdua menuju parkiran.