Please Love Me

Amellia San
Chapter #3

Pembunuh Tiga Nyawa

Cahaya putih nan terang benderang menyapa Aussie ketika kelopaknya perlahan membuka. Bersamaan aroma antiseptik yang menusuk hidung. Bunyi monitor terasa berisik di telinganya. 

Begitu juga suara pemuda yang asing menyapanya. “Hei, akhirnya kamu sudah sadar.”

Suara itu terdengar samar-samar di telinganya, dari sisi kanan ranjang. Aussie mengerjapkan mata beberapa kali. Langit-langit di atas tampak berputar-putar.

Ingin memastikan siapa pemuda yang bersuara itu, membuat Aussie mencoba menoleh ke sisi kanan ranjang. Rasa nyeri tajam langsung menyambar pelipis kirinya. Seolah ada jarum menusuk dari dalam tengkoraknya.

“Ah.” Aussie meringis, refleks mengangkat tangan ke kepala.

Perban tebal melilit sebagian pelipisnya. Lamat-lamat Aussie merasa seperti ada sesuatu yang terasa perih di sana.

“Jangan dipegang.” Suara pemuda itu terdengar lagi. “Ada jahitan di situ.”

Aussie mencoba duduk, tapi kepalanya berdenyut hebat. Pandangannya langsung mengabur. “Ma …” panggilnya dengan suara serak. “Mama …”

Belum sempat kalimatnya selesai, Aussie refleks membungkuk ke samping ranjang, dan memuntahkan isi perutnya. Muntahannya menyemprot ke lantai IGD.

Tubuhnya gemetar. Kepala Aussie terasa seperti hendak pecah.

Pemuda di sampingnya langsung berdiri. “Dokter! Dokter!”

Sambil menunggu, pemuda itu menopang bahu Aussie agar tidak jatuh. Tangannya bergerak refleks memijat tengkuk Aussie yang masih muntah.

Terdengar langkah cepat yang semakin mendekat, lalu tirai pembatas ditarik kasar. Dokter IGD masuk dengan seorang perawat. “Pasien baru sadar?” tanya dokter singkat.

“Iya, Dok. Dia mengeluh sakit kepala dan dan baru saja muntah.”

Dokter menyorotkan senter kecil ke mata Aussie. “Ikuti cahaya saya.”

Cahaya itu menusuk pupilnya. Aussie meringis. “Sakit …” rintihnya.

Dokter mengangguk tegas. “Kita CT scan kepala sekarang. Saya khawatir ada kemungkinan perdarahan intrakranial.”

Aussie tidak menghiraukan anjuran Dokter. Ia malah mencengkeram lengan dokter. “Mama saya mana?” tanyanya lirih.

Dokter terdiam sepersekian detik. “Ibu Anda sedang di ruang resusitasi. Mohon maaf, kondisi Ibu Anda kritis.”

Perkataan dokter itu seperti menghantam kepala Aussie lebih keras daripada tabrakan tadi. “Ma ....”

Tanpa berpikir, Aussie mencabut apa saja yang menempel di permukaan kulitnya. 

Perawat sudah mencoba menghalau tindakan Aussie, tapi dorongan keras dari pasien perempuan itu membuatnya terjatuh.

Entah mendapat kekuatan dari mana, Aussie melakukannya. Sayangnya, saat ia turun dari ranjang, pandangannya berputar, membuatnya meringis. “Mama …”

Aussie nyaris jatuh jika dokter IGD tidak menangkap lengannya. “Aussie, kami harus melakukan CT Scan segera,” katanya dengan lembut.

Lihat selengkapnya