Aussie hanya duduk terdiam. Kepalanya menunduk. Ingin rasanya menangis, tapi ia tidak bisa lagi. Seperti ada batu kerikil yang menyumbat saluran air matanya. Sesekali ia menatap pada jenazah mamanya yang terbujur kaku dan dingin, berbaring tak jauh dari tempatnya duduk.
Tari tampak cantik dan teduh seperti biasanya. Namun, kali ini tidak lagi hangat. Wajahnya pucat. Tidak lagi bisa bergerak. Hanya sekadar mengusap bahu gemetaran Aussie pun tidak bisa.
Di seberang Aussie, Pram juga melakukan hal yang sama. Duduk dengan bahu lunglai. Kepalanya menunduk. Bahkan, tak sanggup mengangkat kepala saat menerima ucapan belasungkawa yang hilir mudik datang.
Bi Sumi dan Pak Hadi dengan sigap mengambil kendali rumah ini. Meski, sama-sama merasakan duka yang mendalam, keduanya tidak lantas diam membiarkan kesedihan mengambil alih. Bi Sumi mondar mandir dari dapur untuk membawa suguhan pada para pelayat. Sedangkan, Pak Hadi mengangkat kardus-kardus berisi air mineral. Beberapa pelayat pun dengan sigap membantu membagikan botol-botol air mineral.
Suasana di ruangan itu mendadak berubah saat Pak Hadi datang, lalu membisikkan sesuatu di telinga Pram. “Pak Pram, Bu Ratri baru saja datang.”
Pram yang sejak tadi hanya duduk dengan kepala menunduk, langsung bangkit berdiri.
Pak Hadi dengan sigap memegangi tuan rumahnya yang tampak lunglai. Namun, Pram menolak bantuannya.
Tampak Ratri turun dari sedan hitam ultra mewah dari merek yang berbasis di Jerman. Dengan hati yang penuh duka, Pram menyambut kedatangan ibu mertuanya.
“Bu, maafkan saya,” ucap Pram sebelum mempersilakan Ratri untuk masuk.
“Minggir!” Ratri mendorong Pram agar tidak lagi terus berdiri di depannya. “Aku hanya perlu bertemu putriku.”
Pram hanya bisa mengikuti Ratri di belakang. Seolah ia bukan lagi tuan rumahnya. Dan memang benar adanya, rumah ini adalah pemberian Ratri yang diberikan pada Tari saat menikah dengannya. Meski, ia sempat menolak karena mereka akan mengontrak rumah sederhana sembari menabung untuk membeli rumah.
“Kamu lupa, Pram? Setelah menikah, kamu menggantikan posisi mendiang suami saya sebagai pemimpin perusahaan. Mau ditaruh mana muka saya kalau pemimpin perusahaan tinggal di rumah kontrakan,” sindir Ratri telak kala itu.
Mau tidak mau dengan berat hati, juga demi kenyamanan Tari yang pasti sudah sejak lama hidup berkecukupan, Pram menerima rumah yang baginya terlalu mewah. Begitupun juga dengan mobil mewah yang dipakainya untuk bekerja.
Dari awal Ratri tidak pernah setuju Pram menikah dengan putrinya. Pram, pemuda yatim piatu yang datang dari perekonomian bak bumi dan langit jika dibandingkan dengan keluarganya yang kaya raya. Ia baru mengiyakan Pram mempersunting Tari setelah Pram berhasil menyelesaikan syarat berat yang Ratri berikan. Yaitu, mengembalikan perusahaan yang dulu dipimpin suaminya, menjadi sejahtera lagi.
Perusahaan keluarga itu sempat terpuruk ketika dipimpin oleh putra Ratri, sehingga wanita itu harus mencari cara untuk mengembalikan posisi perusahaan kembali gemilang. Cara itu adalah mempekerjakan Pram.
“Tari, putriku,” panggil Ratri dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan lembut, ia membelai pipi putrinya yang terasa dingin. Matanya terpejam, hingga air mata jatuh menderas, ketika tangannya membelai perut Tari yang mulai membesar. “Cucuku,” panggilnya lagi.