Please Love Me

Amellia San
Chapter #5

Bubuk Mesiu Mematikan

Siang itu, Aussie memaksakan diri ingin mengikuti prosesi pemakaman mamanya. Padahal, pagi tadi ia sempat pingsan saat beradu pendapat dengan neneknya.

“Aku mau ikut,” kata Aussie tanpa ragu. “Minggir, Bik.” Ia berusaha menjauhkan Bi Sumi yang berusaha menghalanginya agar tetap beristirahat di kamar.

“Non, di pemakaman panas sekali. Bibi takut Non pingsan lagi,” kata Bi Sumi memberi saran dengan lembut. 

“Biarin aja, ada Papa nanti yang gendong aku,” balas Aussie ketus. “Kalo Papa nggak mau, kuburuin aja aku sekalian.” 

Aussie langsung keluar dari kamar, beranjak ke ruang tamu. Untung saja jenazah Tari masih terbaring di tengah ruangan. Sempat ia khawatir ditinggal di rumah saat mamanya dimakamkan.

Terdengar suara yang familiar di sana. Sudah pasti itu suara Ratri dan Pram yang sedang mempermasalahkan sesuatu. Selalu saja begitu.

Setahunya dari Bi Sumi tadi saat Aussie sadar, Pram sudah berbicara dengan pihak rumah duka mengenai keberangkatan jenazah Tari ke pemakaman yang sudah papanya persiapkan. Mamanya akan dimakamkan tepat di sebelah makam papanya kelak. Seperti kemauan yang mamanya minta sejak lama.

Aussie baru tahu jika Pram sudah menyiapkan tempat persemayaman terakhir mereka berdua sejak lama. Bukan karena berharap kematian segera datang, tapi karena Tari pernah berkata dengan nada bercanda, “Kalau aku pergi duluan, aku nggak mau jauh dari kamu, ya.”

Tapi, yang Aussie lihat saat ini adalah nenek sihir itu ingin menghancurkan rencana Pram dan Tari sejak lama.

Ratri mengangkat tangannya sedikit, kode agar Pram diam. “Aku akan membawa putriku pulang.”

Kalimat ibu mertuanya membuat Pram kaget. “Maksud Ibu?”

“Aku ingin putri dan cucuku dimakamkan di pemakaman khusus keluarga. Cukup Kenzo saja yang sudah kamu makamkan sesuai keinginanmu.”

Pram menarik napas panjang. Ia berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar sopan, meski emosinya naik. “Saya sudah menyiapkan makam untuk Tar, Bu. Tari akan dimakamkan di sebelah saya. Itu keinginan Tari sejak lama. Ia sendiri yang mengatakannya.”

“Keinginan putriku?” tanya Ratri dengan nada menyindir. “Sejak kapan kamu merasa punya hak menentukan tempat persemayaman terakhir untuk putriku?”

“Tari adalah istri saya,” suara Pram mulai serak. “Seharusnya ibu menghargai keinginan Tari.”

Namun, Ratri malah tertawa kecil. Tawa yang lebih terdengar seperti penghinaan.

“Aku ibunya. Kali ini aku yang lebih berhak menentukan di mana putriku akan dimakamkan.”

Pram melangkah mendekat. “Saya mohon Ibu mau mengerti keinginan Tari.”

“Itu pasti karena kamu menjauhkan putriku dari kami,” potong Ratri tajam. “Karena kamu menanamkan kebencian pada Tari agar putriku membenci keluarganya sendiri.”

“Saya bersumpah tidak pernah melakukannya!” suara Pram meninggi untuk pertama kalinya. 

Di tengah pertengkaran orang dewasa itu, Aussie berdiri membeku. Ia tidak mengerti kenapa bahkan di hari ini pun, mamanya tidak diizinkan beristirahat dengan tenang.

“Nek ...,” suara Aussie akhirnya keluar.

Lihat selengkapnya