“Mama!” jerit Aussie saat terbangun dengan tubuh yang gemetaran.
Napasnya terengah-engah, seperti seseorang yang baru saja berhasil muncul ke permukaan setelah lama tenggelam di air yang dalam.
Lagi-lagi dadanya terasa sesak. Udara di kamar seolah tidak kunjung terhirup dengan baik oleh paru-parunya. Aussie memukul dadanya seakan-akan memaksa organ pernapasannya untuk bekerja.
Beberapa detik kemudian, Aussie bisa bernapas panjang, lalu duduk terpaku di ranjang, rambutnya menempel di pelipis karena keringat dingin.
Gelap kamar menyelimutinya. Namun, kegelapan itu tidak mampu menenangkan pikirannya. Mimpi itu datang lagi. Selalu mimpi yang sama yang menghampiri Aussie di setiap malam.
Peristiwa mengerikan itu selalu hadir di mimpinya. Bak hantu yang meneror tiap tidur malamnya. Suara hantaman keras yang memekakkan. Darah yang terasa hangat membasahi pelipisnya. Rasa sakit yang menghantam kembali ia rasakan nyata di bunga tidurnya.
Di antara detik-detik kelam itu, ada suara Tari yang menyambut lembut telinganya. Bersamaan dengan dekapan erat serupa sayap malaikat.
“Aussie. Sayangnya Mama.”
Potongan-potongan kenangan itu terus berputar di otaknya tanpa henti. Matanya hanya terpejam rapat menahan rasa sakit menghantam dadanya. Bersamaan dengan isi kepalanya yang selalu sibuk memutar memori yang sungguh tidak ingin ia ingat.
Aussie tidak tahu bagaimana cara menghentikan pusaran memori itu. Dengan perasaan putus asa, ia memukul kepalanya berkali-kali. Seolah-olah dengan begitu semua kenangan itu bisa berhenti. Namun, tidak ada yang berhenti.
Rasa bersalah menghantam Aussie begitu hebatnya. Setiap kali kepalanya berisik memutar memori kelam itu seperti kaset rusak.
Akhirnya, Aussie hanya bisa duduk di sudut ranjang, menarik kedua lututnya ke dada dan memeluknya erat.
Matanya terbuka lebar menatap gelap di malam yang terasa sangat panjang bagi Aussie. Ditemani dengan kepalanya yang berisik. Rasa bersalah yang menghantam. Paru-parunya yang terasa malas bekerja. Terus berulang sampai matahari mulai naik perlahan di balik jendela. Aussie tidak pernah benar-benar tertidur lagi.
***
“Non Aussie,” panggil Bi Sumi sambil mengetuk pintu kamar Aussie, tapi tak kunjung dibuka. Pagi itu, ia tidak membawa nampan berisi makanan seperti biasanya, sesuai perintah Pram.
Dengan perasaan cemas, Bi Sumi kembali ke ruang makan untuk memberitahu Pram yang tadi menyuruhnya untuk mengajak Aussie untuk makan. Sayangnya, sudah berhari-hari gadis itu mengurung diri di kamar. Makanannya selalu utuh. Itu saja Bi Sumi yang mengantar. Hanya saja hari ini Aussie mengunci kamarnya.
“Mana Aussie?” tanya Pram yang melihat Bi Sumi datang hanya seorang diri tanpa putrinya.
“Kamar Non Aussie dikunci, Pak,” Bi Sumi melapor dengan perasaan cemas.