Please Love Me

Amellia San
Chapter #7

Demi Harga Diri

Dengan langkah tergesa, Pram berjalan menuju ruangannya. Saat membuka pintu, ia terkejut oleh kehadiran Ratri. Ibu mertuanya sudah duduk di kursinya, tempat di mana ia memimpin operasional perusahaan. Meski, Ratri pemiliknya, tapi keputusan strategi perusahaan selalu dibuat oleh Pram.

“Apa ada masalah tentang perusahaan sampai Ibu datang kemari?” tanya Pram berusaha sopan setelah permasalahan tentang pemakaman Tari yang sampai saat ini belum bisa ia terima.

Ratri tertawa mengejek. “Pertanyaanmu itu sudah seperti yang punya perusahaan ini saja,” balasnya sambil bersedekap.

“Bukan begitu, Bu,” sahut Pram cepat. “Ibu jarang ke kantor kecuali ada masalah genting.”

“Aku datang memang ada masalah penting,” sahut Ratri yang masih duduk di kursi kebesaran Pram. Tangannya bermain-main dengan plakat nama yang bertuliskan nama lengkap Pram beserta jabatannya.

“Saya ingat-ingat semua cabang perusahaan Ibu baik-baik saja. Lalu, apa masalah yang Ibu maksud?” tanya Pram yang penasaran. 

“Ada masalah genting yang perlu aku bahas denganmu,” kata Ratri, lalu menaruh plakat nama itu dengan kondisi terbalik. 

Pram bersiap dengan tabletnya untuk mencatat apa yang akan Ratri sampaikan. 

“Kamu,” sebut Ratri tiba-tiba.

“Saya? Maksud Ibu? Saya harus meningkatkan sales lagi atau mengoptimalkan ….”

“Kamu, Pram. Kamu itu masalah yang kumaksud,” sebut Ratri dengan penuh penekanan.

“Katakan saja, Bu, saya kurangnya di mana? Akan saya perbaiki kinerja saya.”

“Harus itu, Pram. Kamu harus menuruti apa perkataanku.”

“Kalau begitu, sebutkan, Bu.”

“Keluar dari perusahaan sekarang juga!” tegas Ratri.

Dahi Pram berkerut. Sempat ia berpikir jika hanya salah dengar. “Maksud Ibu?”

“Aku memecatmu dari perusahaanku. Kurang jelas atau bagaimana?”

“Apa alasan Ibu memecat saya? Setelah saya kerahkan semua kemampuan saya untuk menyelamatkan perusahaan ini dari kebangkrutan,” kata Pram yang tidak terima dengan keputusan sepihak ibu mertuanya. 

“Karena kamu gagal menjaga putriku satu-satunya dan dua cucu laki-lakiku,” jawab Ratri sambil menegakkan posisi duduknya di kursi menantunya.

“Itu nggak masuk akal, Bu. Yang Ibu sebutkan barusan di luar masalah perusahaan. Seharusnya Ibu berpikir profesional.”

“Apa? Kamu mengajariku untuk berpikir profesional?” sindir Ratri dengan perasaan tidak suka. “Ini perusahaanku. Jadi terserah aku mau melakukan apa di sini. Kamu nggak berhak mengajariku.”

“Bu, saya mohon agar Ibu memikirkan keputusan untuk memecat saya dengan sepihak seperti ini.” Pram beranjak mendekat menuju meja kerjanya di mana Ratri masih berada di sana. “Apa Ibu lupa dengan apa yang sudah saya kerahkan untuk memajukan perusahaan ini?”

“Itu kewajibanmu, Pram, sebagai bawahanku yang harus siap dan menurut saat aku suruh apa saja. Termasuk yang satu ini.”

Pram menyugar rambutnya dengan perasaan putus asa. Memang benar jika perusahaan ini milik ibu mertuanya. Tapi, ia sudah mengerahkan pikiran dan tenaganya untuk perusahaan ini. Karena itu, ia tidak rela begitu saja jika harus dikeluarkan secara sepihak seperti ini.

Lihat selengkapnya