“AUSSIE!” panggil Pram sambil menggedor keras pintu kamar putrinya. “BUKA PINTUNYA! CEPAT!”
Dengan langkah malas, Aussie turun dari kursi belajarnya untuk membukakan pintu. Pasti Pram bersiap memarahinya setelah guru BK memanggil ke sekolah, perihal perkelahiannya dengan Echa. Jika sebelumnya selalu Tari yang datang setiap kali Aussie bermasalah di sekolah. Tapi, kali ini, giliran papanya yang pertama kali datang.
Baru saja pintu dibuka, Aussie sudah mendapat tamparan sangat keras dari Pram.
“Seperti apa kamu menghajar temanmu, hah?” tanya Pram lalu menampar putrinya lagi. “JAWAB!”
“Aku pukul aja,” jawab Aussie singkat.
Kali ini Pram melepas ikat pinggangnya, lalu memukulkannya ke kaki Aussie berulang kali. Pria itu semakin menambah kekuatan untuk mencambuk terus menerus. Apalagi putrinya tak kunjung menangis atau berteriak. “Dasar anak sialan! Sampai kapan kamu berhenti membawa kesialan ke Papa. Hah?!”
“Mana kutahu,” jawab Aussie masa bodoh, sambil memejamkan mata menahan sakit yang mendera tungkai dan punggungnya. Tapi, yang membuat gadis itu lega, setiap Pram mencambuknya, paru-parunya bekerja sangat baik. Kepalanya tidak lagi berisik. Setidaknya, di antara rasa nyeri yang ia terima mati-matian, ternyata membawa sebuah rasa yang aneh.
Kelegaan. Kelegaan yang membuatnya sedikit bebas dari teror-teror dari memori kecelakaan itu. Yang mana selalu menggoreskan rasa bersalah yang lebih sakit daripada penderitaan yang Pram berikan saat ini.
“Kamu membunuh Kenzo, lalu mamau, lalu calon adikmu,” ujar Pram yang tidak juga menghentikan perlakuan kasarnya. “Lalu, kamu mau membunuh temanmu itu, IYA?”
Mendengar bunyi nyaring dari kamar Aussie saat Bi Sumi bekerja di lantai dua, wanita itu langsung menghampiri kamar Aussie. Tanpa mengetuk pintu, Bi Sumi langsung membuka pintu sambil berteriak, “Sudah Pak Pram. Sudah hentikan!”
Dengan napas yang terengah, Pram langsung menghentikan sikap kasarnya. Sedangkan, Aussie langsung terkulai di lantai.
Tubuhnya lelah sekali. Jeritan Bi Sumi samar-samar terdengar. Tapi, matanya terasa berat. Saat mata Aussie terpejam, jeritan Bi Sumi bersamaan elusan lembutnya itu membuatnya susah payah membuka mata. “Aku baik, Bi,” ujarnya lirih.
Pram pergi begitu saja dari kamar Aussie. Setelahnya, Bi Sumi berteriak memanggil Pak Hadi. lalu, mereka berdua membopong nona muda itu dengan hati-hati dan merebahkannya ke ranjang.
Aussie lelah hingga tertidur, tapi terbangun sambil mengerang kesakitan ketika Bi Sumi mengoleskan obat ke luka-lukanya.
“Tahan, ya, Non,” kata Bi Sumi sambil terisak-isak. “Pasti sakit banget, Non.”
“Nggak terlalu,” jawab Aussie lirih.