Please Love Me

Amellia San
Chapter #9

Jungkir Balik dan Pertemuan Pertama

“Mama kok nggak ikut, Pa?” tanya Aussie kebingungan. “Kasian Mama ditinggal. Apa Mama tinggal sama Nenek?” tanyanya lagi. “Papa nggak cerai, kan, sama Mama?”

Selama perjalanan di kereta, Aussie bertanya-tanya tentang mamanya. Tapi, Pram lebih memilih diam. Tampak wajah pria itu menahan kesal dengan pertanyaan konyol putri semata wayangnya.

“Nanti aja kalau sudah sampai kontrakan,” jawab Pram singkat. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing menghadapi Aussie yang tampak aneh. Penampilan putrinya pun aneh. Benar-benar membuatnya sakit kepala. Apalagi, Pram mulai hari ini sampai seterusnya hanya hidup berdua dengan Aussie. Tidak ada Bi Sum maupun Pak Hadi yang biasa setia membantunya.

Hari itu sudah gelap, kereta yang Aussie dan Pram naiki akhirnya berhenti di stasiun Pasar Senen. Kehidupan baru mereka di Jakarta baru dimulai.

Turun dari taksi online, tampak bangunan dua lantai. Aussie mengira rumah ini adalah yang Pram sewa ternyata bukan.

“Ikuti Papa,” perintah Pram sambil mengangkat dua koper.

Aussie menurut mengikuti Pram memasuki gang yang hanya cukup dilalui dengan satu motor saja. Dua tangannya repot menjinjing dua koper besarnya, karena jalanan sempit itu berbatu. “Masih jauh, Pa?” tanyanya mulai kelelahan.

“Bentar lagi.”

Setelah hampir sepuluh menit berjalan, tampak ibu-ibu seusia Tari menyambut kedatangan mereka. Ibu-ibu itu langsung membukakan pagar kecil dan pintu rumah, lalu mempersilakan pengontraknya untuk masuk. 

Setelah menunjukkan tiap-tiap ruangan, ibu-ibu itu memberikan sesuatu pada Pram, “Ini Pak Pram kuncinya. Rumahnya sudah saya bersihkan dan saya pel, lho. Semoga betah, ya, Pak,” ujarnya sambil senyum-senyum melihat Pram.

Pram menerima kunci itu sambil mengangguk. 

“Ini anaknya, ya, Pak Pram?” tanya ibu-ibu itu ingin tahu sambil menatap Aussie dari atas sampai bawah.

“Ya,” jawab Pram singkat tanpa melihat ibu-ibu yang bertanya itu.

“Cantik, Pak, anaknya. Namanya siapa?”

Aussie mengulurkan tangannya, “Aussie, Bu,” sebutnya dengan ramah.

Ibu-ibu itu mencoba menyebutkan ulang nama Aussie, tapi lidahnya kelu karena nama itu terlalu susah disebut untuknya.

“Panggil Lucy aja, kalau begitu,” kata Aussie, menyebut nama tengahnya.

“Nah, ini baru gampang. Semoga Lucy betah, ya.”

Aussie mengangguk, lalu melambaikan tangan ketika ibu-ibu itu pamit keluar dari rumah kontrakan miliknya yang resmi disewa.

Kontrakan empat petak, dengan dua kamar, membuat Aussie termenung. Sama sekali tidak ada perabotan kecuali kompor dan tabung gas berwarna hijau muda itu yang terletak di dapur dekat kamar mandi. 

“Pa, ini kita tidur di mana? Nggak ada kasurnya,” tanya Aussie bingung.

“Bi Sumi sudah bawakan bedcover. Tidur aja pakai itu dulu,” jawab Pram sambil membongkar dua kopernya yang berat. 

Lihat selengkapnya