Please Love Me

Amellia San
Chapter #10

Memori Kelam dan Pertengkaran dengan Papa

“Kamu masih ingat aku, nggak?”

Pertanyaan Kairo membuat kepala Aussie sakit. Bayangan ruangan IGD di hari kecelakaan itu kembali terputar jelas di otaknya. Kedua tangannya memegangi kepala, lalu bangkit dari bangkunya.

Di jam istirahat itu, Aussie ingin rasanya berlari cepat-cepat meninggalkan kelas, meski badannya terasa lemas karena lapar dan haus. Uang di sakunya hanya lima ribu, memangnya bisa membeli apa dengan uang sekecil itu?

Perpustakaan sekolah adalah tujuannya. Buku apa saja tentang Fisika adalah hal yang harus Aussie dapatkan, demi menghentikan memori menyakitkan itu berhenti berputar.

Baru saja Aussie keluar dari ambang pintu kelas. Tapi, ternyata Kairo sudah lebih dulu menghadangnya.

“Aussie,” panggil Kairo sambil membawa sebotol air mineral dan kotak makan. 

Tadi, sepanjang pelajaran di kelas, Kairo khawatir saat wajah pucat Aussie terus membayang di benak. Teringat saat di ruangan IGD kala itu, waktu ia duduk di sisi ranjang, menunggu gadis itu siuman. Sayangnya, kenapa Aussie tidak mengingatnya. 

Aussie menggelengkan kepala saat melihat Kairo tepat di depan matanya. Cepat-cepat ia menutup matanya dengan kedua telapak tangan. “Minggir. Sana!” katanya sambil mendorong Kairo agar jauh dari dirinya.

“Aku mau bawain kamu makanan,” Kairo menunjukkan bawaannya, meski Aussie tidak melihat. “Aku tau kamu pasti nggak sempat sarapan. Tadi, waktu di lapangan, wajahmu pucat, Aussie.”

Saat mendengar kata ‘makanan’, Aussie merenggangkan jemari agar bisa mengintip dari sela-sela. Benar saja di tangan Kairo ada air mineral dan kotak makanan. Sebenarnya ia ingin menolak karena gengsi. Tapi, perutnya terus berbunyi meminta hak untuk diisi.

“Iya, aku lapar. Tapi …,” kata Aussie tertahan, “aku nggak suka liat kamu, Kak.”

Kairo mengulum senyum. Siswi baru ini lucu juga, pikirnya. Suara perutnya yang keroncongan sampai terdengar olehnya. “Ya sudah terima ini,” katanya sambil mendekatkan air mineral dan kotak makan ke arah Aussie.

Sedangkan, Aussie memejamkan mata rapat-rapat, sambil kedua tangannya meraba di udara untuk meraih keberadaan dua benda itu yang bisa menyelamatkan perutnya dari keroncongan.

Kairo menyematkan air mineral di genggaman tangan kiri Aussie, dan kotak makan di tangan kanan gadis itu. “Sekarang, aku pergi, jadi kamu nggak akan lihat aku.”

Benar saja, saat Aussie membuka matanya, Kairo sudah tidak ada lagi di hadapannya. 

Terdengar sentilan, “Cieee anak baru, langsung dideketin Kak Kairo.”

“Kak Kairo pinter, lho, Si. Harusnya lo bangga dikejar-kejar sama doi,” kata teman yang lain.

Lihat selengkapnya