Please Love Me

Amellia San
Chapter #11

Mi Instan Rebus Spesial

Pram memijat kepalanya. Seharusnya ia senang, ini pertama kalinya melihat Aussie berada di dapur. 

Padahal, semalam, ia dan putrinya bertengkar hebat. Bahkan, Aussie memakinya dengan kata-kata kasar setelah Pram kembali menyalahkannya atas kematian Tari. Aneh rasanya melihat gadis yang semalam penuh amarah itu kini berdiri di dapur sambil memasak mi instan.

“Papa, aku bikin mi instan rebus. Tapi, kita makannya berdua, ya, soalnya uangnya cukup cuma beli satu aja,” kata Aussie sambil tersenyum. Rambutnya tampak rapi dikuncir dengan pita warna merah muda. 

Aussie menyodorkan semangkuk mi untuk papanya saat mereka duduk beralaskan tikar di ruang tamu. “Nanti kalo Papa kasih aku uang saku, aku beliin mi instan lagi ya buat makan malam.”

Pram hanya terdiam saat menerima mangkuk berisikan sedikit mi, yang mungkin saja tidak akan mengganjal perutnya yang lapar. Tapi, mi ini seperti keajaiban. Entah putrinya habis jatuh dari genteng atau apalah, sampai punya perilaku semanis ini.

“Makasih, Aussie,” kata Pram datar, lalu menghabiskan mi itu dengan amat cepat.

Begitu juga dengan Aussie.

“Biar Papa yang cuci mangkoknya. Kamu berangkat sekolah saja, takut nanti terlambat,” ujar Pram setelah melihat Aussie selesai sarapan.

“Beneran, Pa?” tanya Aussie tidak percaya. Aussie bangkit berdiri, lalu menghampiri papanya, lalu memeluk pria itu dari belakang. “Makasih, Papa. Aku sayang Papa,” katanya begitu lembut.

Kedua mata Pram melebar, kebingungan. Hampir tidak percaya dengan perkataan Aussie baru saja yang diucapkan begitu lembut. Bahkan, ia merasa setengah bermimpi, merasakan kepala Aussie bergelayut di pundaknya. Teringat akan memori masa kecil Aussie yang manja dengannya sebelum akhirnya Kenzo lahir. 

“Ayo, cepat berangkat sekolah,” ujar Pram sambil berdehem berkali-kali.

“Siap, Pa. Aku berangkat sekolah dulu, ya,” kata Aussie dengan tersenyum ceria, sambil menatap papanya penuh sayang.

Keajaiban selanjutnya adalah Aussie mencium punggung tangan papanya sebelum berangkat ke sekolah. Pram pun tak kalah terkejutnya.

“Hati-hati di jalan, Aussie,” kata Pram, yang dirinya sendiri merasa aneh saat mengatakannya. Sudah lama, Pram tidak mengucapkan perkataan itu pada Aussie.

Aussie mengangguk semangat, lalu buru-buru keluar kontrakan sambil mencangklong ransel.

Namun, langkahnya mendadak berhenti saat melihat pot-pot bunga milik Rina, tetangga depan kontrakan, tampak berantakan.

“Ya ampun ...,” gumam Aussie.

Tanpa berpikir panjang, Aussie jongkok begitu saja. Tangannya dengan telaten menegakkan pot-pot bunga yang miring, lalu menyusun ulang bunga-bunga itu agar tertata rapi.

Rina yang baru keluar rumah tampak terkejut. “Lho, Aussie? Kamu ngapain, Nak?”

Aussie langsung berdiri cepat. “Maaf, Bu. Aku lihat bunganya berantakan, jadi aku rapihin sedikit.”

“Ya ampun ... makasih ya.”

Aussie tersenyum malu-malu. “Nggak apa-apa, Bu.”

Bu Rina memperhatikan tangan Aussie yang cekatan merangkai bunga-bunga kecil yang patah agar tetap terlihat cantik.

“Kamu suka bunga?”

“Iya,” jawab Aussie pelan. “Mama aku juga suka.”

Entah kenapa, mendengar jawabannya sendiri membuat dada Aussie terasa hangat sekaligus nyeri.

Kemudian, Rina masuk sebentar ke rumah, lalu kembali membawa beberapa tangkai bunga segar sisa pesanan buket.

Lihat selengkapnya