Please Love Me

Amellia San
Chapter #12

Pekerjaan Baru dan Fisika

Malam itu, Aussie baru saja pulang ke kontrakan, setelah bekerja sejak pulang sekolah di rumah Rina, tetangganya, yang punya toko bunga sederhana. Bahkan, gadis itu masih mengenakan seragam sekolahnya.

Rina mempekerjakan Aussie untuk membuat beberapa buket bunga, karena pesanan sedang lumayan banyak. Sekaligus, mengajak Aussie untuk mengantar pesanan naik motor. Gadis itu memegangi kardus berisi beberapa buket bunga dengan hati-hati, agar bentuknya tidak hancur.

“Aussie, kamu ini ke mana saja jam segini baru pulang?” tanya Pram kesal, lalu bersiap mengayunkan tangan untuk menampar putrinya.

Aussie langsung menunduk sambil memejamkan mata. Bulir matanya mulai mengalir pelan membasahi wajah, padahal papanya belum menghadiahinya tamparan.

Pram terkejut, melihat Aussie yang menangis. Bahkan, ia belum melakukan apa-apa pada putrinya. Melihat gadis itu menangis, terbitlah rasa tidak tega untuk menampar Aussie. Pram pun menurunkan tangannya. “Papa udah telp dan chat kamu tapi kenapa nggak dibalas?”

“Aku tadi … habis dari rumah Bu Rina, Pa,” jawab Aussie masih menyisakan isak. 

“Ngapain kamu di sana sampai malam begini?” tanya Pram yang masih kesal.

“Bu Rina kasih aku … kerjaan, Pa,” jawab Aussie masih sambil menunduk. Ia melepas ransel dari bahu, membukanya, lalu menunjukkan pada papanya kantong plastik yang berisi 4 mi instan dan 4 butir telur. “Bu Rina kasih aku ini, Pa, sama uang lima puluh ribu,” katanya sambil menunjukkan dua lembar uang dua puluh ribu dan selembar uang sepuluh ribu.

Pram tidak menyangka jika seorang Aussie mampu bekerja, entah bekerja apa. Sekaligus, merasa gagal menjadi ayah yang tidak kunjung mendapat pekerjaan. Saat ini, malah putrinya lebih dulu yang mendapat pekerjaan. “Harusnya kamu kabari Papa. Apa susahnya?” tanyanya kesal.

“Maaf, Pa,” kata Aussie penuh penyesalan. “Papa mau aku bikinkan mi?” tawarnya dengan lembut. “Papa belum makan, kan?” 

“Nggak usah. Papa udah makan,” jawab Pram berbohong. 

Aussie manatap papanya dengan lembut, lalu tersenyum. “Papa bohong. Hayo ngaku?” tanyanya, tapi papanya malah pergi lebih dulu, lalu duduk di alas tikar. “Aku bikinin Papa mi, ya. Tunggu aku. Oke?”

Tetap saja Pram tak menyahuti Aussie. Pria itu duduk termenung sambil menyandarkan bahunya yang lelah di tembok. Sejak pagi sampai sore, ia sudah mencoba mendatangi beberapa kantor yang sudah dilamarnya, tapi tak kunjung ada hasil seperti yang prian itu harapkan.

Sedangkan, Aussie sibuk memasak mi instan dan merebus sebutir telur di dapur mungil di sebelah kamar mandi. Untung saja, sebelum pulang tadi, Rina memberinya makan malam sebelum pulang.

Setelah selesai, Aussie membawakan semangkuk mi lengkap dengan telur rebus untuk papanya. “Ini Pa. Dihabisin, ya, Pa,” katanya sambil duduk di alas tikar, lalu menyerahkan mangkuk itu ke Pram.

“Ayo, makan sama Papa,” tawar Pram, khawatir putrinya kelaparan.

“Nggak usah, Pa. Tadi Bu Rina ngasih aku makan sebelum pulang,” jawab Aussie sambil tersenyum, lalu menguap, tapi buru-buru ia tutup dengan telapak tangan.

Pram terkejut lagi. Dari mana putrinya jadi memiliki adab seperti ini. “Ya udah. Kamu tidur aja kalau begitu. Keliatannya udah ngantuk banget.”

“Oke, Pa,” Aussie mengangguk, lalu memeluk papanya dari depan. “Selamat malam, Papa.”

Tangan Pram refleks terangkat ke udara. Tapi, ia ragu-ragu untuk membalas pelukan putrinya. Hingga ia merasakan sensasi hangat memenuhi hatinya, langsung mendekap Aussie dengan erat. “Selamat malam … Nak.”

***

Mata pelajaran pertama di pagi itu adalah Fisika. Aussie tersenyum senang. Tidak sabar untuk menunggu Bu Yusri, guru mata pelajaran Fisika, datang. Sambil menunggu, Aussie membuka buku catatannya, yang malah membuatnya tercengang.

Tidak ada sama sekali catatan pelajaran Fisika di sana. Aussie mengecek di bagian belakang buku, yang ia temukan adalah banyak sekali garis lima horizontal yang ditebalkan berisi not-not balok yang ia sendiri tidak pahami. Lalu, siapa yang menuliskan ini?

Lihat selengkapnya