Please Love Me

Amellia San
Chapter #13

Penyuka Fisika

“Papa, aku berangkat dulu ke sekolah, ya,” ujar Aussie, lalu meraih tangan papanya untuk dicium punggung tangan dari pria itu.

Hati Pram tiba-tiba menghangat, meski putrinya selalu melakukan hal itu setiap pamit ke sekolah. “Hati-hati di jalan, Nak,” sahutnya sambil mengusap kepala putrinya dengan lembut. “Yang semangat sekolahnya.”

“Siap, Papa. Da-da Papa,” Aussie melambaikan tangan kanannya ke arah Pram. Bibirnya tersenyum manis. Setiap kali melihat pria itu memperlakukannya lembut, gadis itu makin semangat menjalani hari. Hatinya pun merasa ringan. Dunia seolah berpihak padanya, selama papanya selalu memperlakukannya dengan lembut.

Sejak pingsan saat Pak Eko memberinya hukuman lari keliling lapangan, Aussie berusaha agar tidak terlambat lagi. Pagi itu, ia bersyukur jika tidak datang terlambat. Beberapa teman sekelasnya mulai menyapanya.

“Aussie.”

“Iya,” sahut Aussie sambil tersenyum manis. Rambutnya yang dikuncir dengan pita merah muda bergoyang ke sana kemari. Hatinya bahagia.

Dan, sepanjang waktu istirahat, Aussie benar-benar tidak bisa istirahat. Bangkunya benar-benar tidak pernah sepi oleh teman-teman sekelasnya yang bergerombol di sana.

“Si, yang tadi di papan tulis itu gimana caranya sih?” 

Aussie yang semula sedang mencoba membaca ulang catatan Fisika di bukunya sampai kebingungan sendiri. “Bagian mana yang kalian nggak paham?” tanyanya lembut.

“Yang hambatan paralel itu.”

Aussie mengambil pensil lalu mulai menjelaskan perlahan. “Kalau paralel, yang dijumlahin itu kebalikan hambatannya dulu.”

“Lho, kenapa harus dibalik?”

“Karena ...,” Aussie berpikir sejenak mencari cara menjelaskan yang mudah dipahami teman-temannya. “Anggap aja ada dua jalan buat dilewati arus listrik. Makin banyak jalan, makin gampang dilewati. Jadi hambatannya makin kecil.”

“Ohhh!”

“Gitu toh!”

Aussie tersenyum senang saat melihat teman-temannya mulai memahami materi Fisika yang diajarkan Bu Yusri. Bahkan, ada yang sampai mencatat ulang penjelasannya. 

Jujur, Aussie merasa ikut bahagia. Kali ini, melihat orang lain mengerti setelah ia menjelaskan sesuatu membuat hatinya terasa hangat.

Bel tanda istirahat berakhir pun berbunyi. Selama jam istirahat, Aussie tidak sempat ke kantin. Tapi, meski perutnya terasa mulai lapar, ia mencoba mengingat wajah-wajah temannya yang berhasil diajarinya Fisika.

“Si, nanti kalau gue nggak paham lagi, boleh nanya?” tanya teman yang duduk di belakang Aussie.

“Tentu boleh,” jawab Aussie sambil menoleh ke arah temannya.

“Serius?”

“Iya,” jawab Aussie tanpa ragi-ragu.

“Makasih, ya, Si,” sahut temannya lega.

Saat istirahat kedua, ada kakak kelas perempuan ke kelas untuk menemui Aussie. “Lo, Aussie, kan?”

“Iya. Ada apa, Kak?” tanya Aussie setelah melihat tanda kelas di seragam siswi yang tampak asing itu.

“Gue mau nyampein pesen Bu Yusri, nanti sepulang sekolah lo harus datang untuk bimbingan OSN. Lo bisa, kan?”

“Ya, bisa, Kak,” jawab Aussie tanpa ragu, meski dalam hatinya kepikiran pekerjaannya dengan tetangganya. 

Setelah kakak kelas itu pergi, Aussie segera mengambil ponsel di tas untuk mengirim pesan. Dengan cepat, ia mengetikkan pesan untuk Rina, jika hari ini tidak bisa bekerja karena ada bimbingan OSN.

Lau, balasan pesan masuk dari Rina.

Tidak apa-apa, Si. Sekolah lebih penting. Fokus belajar dulu, ya.

Hati Aussie lega sekaligus menghangat. Satu per satu orang-orang di sekitarnya menyukainya.

Sayangnya, saat akan mengirim pesan pada papanya, ponsel Aussie keburu mati, karena semalam keburu lelah sampai lupa mengisi daya. Dalam hatinya, Aussie berharap jika Pram tidak memarahinya jika nanti pulang terlambat.

***

Menjelang sore, Aussie sudah duduk di antara tujuh siswa-siswi yang lain, sesama kelas sebelas yang dipilih Bu Yusri untuk mengikuti bimbingan OSN Fisika. Tapi, setelah sepuluh menit berlalu, Bu Yusri tak kunjung datang juga.

Lihat selengkapnya