Please Love Me

Amellia San
Chapter #14

Hubungan Aussie dan Papanya Semakin Hangat

Aussie baru saja bisa ke kantin usai mengajari teman-temannya. Jam istirahat hari itu ia mengajari Matematika. Gadis itu merasa tidak enak hati jika menolak saat teman-temannya bertanya tentang pelajaran.


Dengan langkah cepat, ia bergegas menuju kantin. Karena waktu yang tersisa sedikit, Aussie memutuskan untuk membeli roti dan air mineral. Baru saja beberapa gigitan, bel masuk sudah berbunyi. Cepat-cepat ia mengunyah, bahkan mendorong makanannya dengan air agar cepat tertelan.


Sayangnya, caranya itu membuatnya tersedak hingga terbatuk-batuk.


“Ya ampun, Si, pelan-pelan makannya,” kata Kairo yang datang menghampiri Aussie ketika melihat kelakuan aneh gadis itu. “Lagian lo baru ke kantin jam segini.”


Masih terbatuk-batuk, membuat Aussie tidak bisa menyahuti kakak kelasnya itu. Terasa usapan lembut di punggungnya, yang lamat-lamat membuat batuknya berhenti.


“Tarik napas panjang, Si. Jangan minum dulu,” Kairo berpesan.


Aussie menuruti Kairo untuk menarik napas panjang.


“Lain kali makannya pelan aja. Telat masuk kelas, nggak apa-apa, kok. Biasanya guru juga telat masuknya. Kecuali Bu Yusri.”


Aussie hanya menganggukkan kepala. Setelah napasnya sudah kembali normal, barulah ia menyahuti, “Makasih Kak.”


“Kenapa baru jam segini ke kantin. Lo ke mana aja sejak tadi?”


“Aku ngajarin temen-temenku matematika, Kak. Aku nggak enak nolaknya,” jawab Aussie, lalu berdiri dari bangku kantin.


“Lain kali, lo tolak aja, lah, bilang aja mau ke kantin dulu. Baru setelah lo kenyang, lo ngajarin mereka,” Kairo memberi salan sambil berjalan menjauh dari kantin untuk kembali ke kelas masing-masing.


“Tapi, kasian, Kak, mereka, kan, butuh bantuan,” timpal Aussie dengan raut sendu.


“Jadi lo nggak kasian sama diri lo sendiri? Lo nahan laper cuma demi mereka. Lo yakin?” tanya Kairo yang kali ini suaranya sedikit naik karena kesal dengan cara Aussie yang mementingkan orang lain daripada diri sendiri.


Aussie menunduk. Matanya mulai berair. Sebisa mungkin, ia menahan diri agar tidak menjatuhkan air mata.

“Sorry Si, aku tadi agak kasar ngomongnya ke lo.”


Kairo tak habis pikir hanya dengan berkata dengan sedikit meninggi membuat Aussie hampir menangis. Padahal, di hari pertamanya masuk sekolah, ia malah berani menimpali Pak Eko waktu terlambat sekolah.


Aussie menggeleng. “Makasih, Kak, sarannya. Nanti aku coba.”


Kairo hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat respon Aussie. Hanya dalam waktu dua menit, gadis itu sudah mengatakan ‘terima kasih’ sebanyak dua kali. Bahlan, hampir menangis tadi. Lagi-lagi, ia penasaran. Tapi, mereka harus kembali ke kelas masing-masing.


***


Rina terpaksa harus membawa beberapa bunga ke rumah Aussie karena masih harus mengantar pesanan lain. Sayangnya, saat sampai depan kontrakan Aussie, gadis itu belum sampai rumah.


“Nggak apa-apa, Bu Rina, taruh sini saja. Biar saya sampaikan ke Aussie,” kata Pram saat menemui tetangganya di depan rumah.


“Terima kasih, ya, Pak,” kata Rina sambil memberikan beberapa bungkusan bunga segar pada Pram. “Saya terbantu sekali sama Aussie, lho, Pak. Tangannya cekatan sekali dan hasil rangkaiannya bagus,” pujinya dengan tulus.


Pram hanya mengangguk. “Terima kasih sudah mempekerjakan Aussie, Bu.”


“Maaf kalo boleh tau, Pak. Apa Bapak belum dapat pekerjaan?” tanya Rina dengan nada hati-hati.


Pram keburu berdeham sebelum menjawab pertanyaan itu.

Lihat selengkapnya