Please Love Me

Amellia San
Chapter #15

Kebingungan-Kebingungan Kairo

“Dit, kamu bisa gendong Meta, nggak?” tanya Aussie panik saat jam istirahat melihat teman sekelasnya yang paling pendiam tampak pucat. Saat ia sentuh dahinya, terasa panas.

Sejak jam pelajaran berlangsung, Aussie memperhatikan Meta yang tampak lemas dan pucat. Pikirannya sampai tidak fokus pada pelajaran. Jadi saat jam istirahat, ia langsung menghampiri bangku tempat Meta duduk.

“Males, ah, Si,” jawab Adit ogah-ogahan. “Ini, kan, jam istirahat, aku mau ke kantin, lah,” sambungnya, kemudian berlalu meninggalkan kelas.

“Ih, Adit, kamu tega,” balas Aussie sedih.

“Meta, ayo sini, aku antar ke UKS,” tawar Aussie, lalu melingkarkan lengan di pinggang Meta.

Selama perjalanan menuju UKS, langkah Aussie mengikuti langkah lemah Meta yang sedang demam tinggi.

“Aussie,” panggil seseorang yang baru saja keluar dari kelas, Kairo. “Teman lo sakit?”

Aussie mengangguk. “Iya, Kak, badannya lemas karena demam.”

“Ya sudah biar gue yang gendong teman lo,” tawar Kairo yang langsung mengambil posisi jongkok di depan Meta yang tampak pucat. “Suruh temanmu naik ke punggung gue.”

Tak butuh waktu lama, Kairo langsung beranjak cepat ke UKS dengan Meta yang berada di punggungnya. Setelah merebahkan Meta ke ranjang UKS, Aussie segera memberi gadis itu air hangat yang diambil dari dispenser. Lalu, siswa yang kebagian jaga saat itu menyerahkan obat penurun demam pada Aussie.

“Meta, minum obat dulu, ya,” Aussie menyodorkan sebutir obat penurun demam pada Meta dan segelas air. 

“Makasih, ya, Si,” ucap Meta masih lemah. 

“Iya. Kamu butuh apalagi, Met?” tanya Aussie. “Aku beliin kamu makan, ya?”

Meta menggeleng. “Aku tidur saja. Soalnya kepalaku sakit.”

Tiba-tiba, Kairo menarik lengan Aussie setelah Meta sudah memejamkan mata. “Ayo, ke kantin!” ajaknya.

“Aku mau nemenin Meta.”

Setelah berhasil menarik Aussie keluar UKS, barulah Kairo melepas lengan Aussie. “Meta cuma butuh istirahat, Si. Lo nggak laper apa?”

Aussie menggeleng. Tapi, perutnya mendadak bunyi. Semalam, ia bekerja merangkai bunga hingga larut malam, menyebabkan bangun kesiangan. Sedangkan, Pram sejak subuh sudah harus bekerja di florist milik Rina, jadi tidak ada yang membangunkannya. Meski, Pram sudah menyiapkan roti di dapur, Aussie tidak sempat memakannya karena tidak mau terlambat datang ke sekolah.

“Tuh, perut lo aja bunyi. Lain kali, pikirkan diri lo dulu baru orang lain. Sebelum ngebantu orang lain, pastikan dulu lo kuat bantuin. Liat muka lo juga agak pucat. Pasti lo belum sarapan, kan?” omel Kairo panjang lebar.

Aussie menggeleng. “Belum, Kak.”

“Ayo, gue traktir bakso. Gue nggak nerima penolakan.”

Mau tidak mau, Aussie mengangguk, menerima tawaran Kairo. Akhirnya, mereka berdua berjalan bersama menuju kantin, lalu duduk di kursi kosong. 

Lihat selengkapnya