Blurb
Aku bosan.
Jadi, kuputuskan ‘tuk pergi ke Benua Baru menumpang kapal perompak dengan alasan mencari jejak si sulung yang selalu kuulang di depan semua orang. Meninggalkan status Tetua Gudang Harta Bukit Muara beserta seluruh kehidupan lama jauh di Eldhera sana.
Menyeberang laut hingga melewati utara . . . .
Yang, kalian tahu, ternyata malah menjungkirbalikkan diriku ke titik asing.
Benua Baru, bukan lagi benua baru yang kutahu di masa lalu. Lampu mana, gedung-gedung tinggi mencakari langit, mobil, bensin gerusan batu kutukan, sampai ke duania-dunia yang menggantung terbalik di atas langit kota-kotanya sekali lagi memberiku gegar budaya.
Pemungkasnya diriku kembali merangkak dari bawah sebelum nanti berdiri tegap.
Bersama salah satu kelompok tunawisma di Stuckenborstel . . . .