Biasanya, aku akan menulis tanggal sebagai pembuka, bulan sekian di tahun mana terus minggu atau hari keberapa pada musim apa. Setelah jelas kapan, barulah kusebut lokasi dan mulai bercerita.
Selain kebiasaan, hal itu tampak lebih rapi bagi mataku yang senang merunut.
Jadi aku suka.
Namun, sekarang agak beda.
Sebab kata yang muncul di kepalaku pas memikirkan catatan ini adalah ….
“Semangi.”
“Semangi?”
“Ya, semangi. Rumput yang katanya tanda keberuntungan kalau daunnya punya cabang empat.”
“Maksudmu semanggi ….”
Sebagai tokoh utama di banyak cerita, kuakui diriku berkembang menjadi sangat narsis.
Saking narsisnya sampai enggan ganti sudut pandang padahal gaya orang ketiga jauh lebih mudah tatkala harus menggambarkan keseluruhan peristiwa, dan aku kukuh ingin jadi jangkar cerita meski dengan segala keterbatasan yang ada di orang pertama macam sekarang.
Pokoknya sudut pandangku, titik.
“Jadi tulisannya itu semanggi, ge-nya dua?” tanyaku, memastikan nama rumput yang baru saja kuda-kuda di kandang ini kunyah. “Ge-nya betulan ada dua, bukan satu?”
“Dari dulu ge-nya itu memang dua, kok, Sayang.”
Eh, ya! Wanita yang lagi kuajak bicara ini Lian, Hie Lian, istriku. Cantik, ‘kan?
Tubuh ramping, pipi merah, kulit cerah, mata bak mutiara.
Sempurna sejauh yang bisa kubayangkan.
“Sayang, bukannya kaubilang mau mengurus masalah Serindi?”
Dan, ya, biar kalian gak bingung. Pada buku lain kota tempat tinggal kami diinvasi kerajaan tetangga hingga keluargaku mau tak mau harus mengungsi sampai kemari. Serindi, nama kerajaan tersebut.
Di sana diriku, bersama beberapa orang termasuk ayah mertua ditambah ketua dengan saudara-saudara seperguruan satu sekte, tengah merencanakan sesuatu guna membalas mereka.
Namun, kita di sini bukan ‘tuk membahas hal itu. Jadi ….
“Balas dendam sudah ditangani banyak orang.” Begitu jawabku sebelum lantas mengajak Lian pergi. “Kau gak perlu khawatir, Sayang. Ah, ya! Mumpung rumah sepi, kenapa kita enggak …?”
“Hallah! Kau. Ya, sudah—ayo siniii, tangkap aku kalau bisaaa! Ahaha ….”
***
“Ahaha, haha, haha ….”