“Hah …, hah …, hah ….”
“Haaah—mereka gak ngejar kita, ‘kan?”
Aku ingin ketawa lihat Pareta dan Niki terkapar di trotoar.
“Kamu kenapa, Mi?”
“Cuma geli—Geng?!”
“Mi, aku tahu buntelan lemak bikin kamu susah napas …, cuma, kalau ngomong jangan setengah-setengah …, hah, itu bikin kesel.”
“Setuju ….”
“Gak.” Kutepuk-tepuki bahu Pareta biar dia lihat sediri. “Bukan …, tuh, tuh! Mending lihat sendiri, deh.”
“Apa?”
“Kalian lihat apa?”
“Gak tahu,” timpal Pareta, menoleh Niki lantas selonjoran. “Si Mi nyuruh lihat ke depan, tapi enggak tahu ada apa. Cuma langit cerah doang.”
Aku berdecak dengar komentar Pareta, gak percaya dia gak paham maksudku.
“Maksudnya coba lihat kota di depan. Gitu, loh, akh!”
“Kota?”
“Kota apa?”
Sekian detik berlalu sebelum dua anggota Geng Plester itu kompak geleng kepala.
“Gak ada apa-apa, tuh, Mi.”
“Hah?” Mataku membulat. “Serius kalian gak lihat apa-apa?”
“Emang apaan, sih?” tanya Niki, melihatku heran. “Gak usah main kode, bilang langsung aja kali, Mi.”
“Hah.” Aku menggeleng lantas duduk di tiang lampu jalan. “Sebulan ini kalian nyari-nyari kerjaan, ‘kan—nah, kota di depan tuh cocok buat kita.”
Masalah pertamaku selain bahasa, aksara, tempat tinggal dan makanan, juga adalah sumber pemasukan yang belum pasti. Benar-benar gak pasti. Dua bulanku mengikuti Geng Plester, mereka mengais hidup dari barang-barang sisa yang ditemukan sepanjang jalan.
Gaya hidup yang tak bisa kuikuti, jelas saja.
Di Eldhera aku bisa pergi berburu atau menukar besi-besi bekas pakai buat kulebur jadi pisau sama barang-barang penunjang keperluan lain, paling pahit diriku akan mengambil pesanan serikat kalau gak mendaftar paruh waktu sebagai pengumpul mayat sama coba pekerjaan-pekerjaan lain di Kantor Muri Distrik.
Di sini, mana bisa. Walaupun pada praktiknya diriku tetap mengandalkan minyak cendana Chloe, kantung ajaibku, sebulan bersama mereka-mereka ini.
Intinya ada masalah fundamental lain yang harus kuhadapi di Benua Baru, itu saja. Cukup.
“Hei, Mi. Orang bodoh juga tahu banyak kerjaan di tempat kumuh kayak gitu, pe-er buat pemerintah kota mereka. Kamu lagi bercanda, ya?”
“Gak. Aku enggak bercanda. Gundukan sampah di ujung jembatan ini, misal, tanda kalau pemerintah kota mereka belum punya sistem pengelolaan limbah—itu peluang kita buat punya kerjaan di sana.”
Niki dan Pareta silih lirik sebelum keduanya kompak angkat bahu, tidak paham maksud kata-kataku.
“Oke. Kamu boleh coba cari kerjaan di sana,” ujar Niki, tersenyum singkat lalu putar badan. Acuh tak acuh menanggapi ide ‘brilian’ barusan, sepertinya. “Aku masih ada kerjaan di Yotaar, jangan lupa malam ini kita ada operasi. Segitu aja, bye!”