Plester Co.

Saepul Kamilah
Chapter #3

Melawan Malas

“Udah dapat kerjanya?”

Seharian ini aku keliling kota bareng Pareta, mengetuk pintu belakang toko, restoran, sampai ke rumah-rumah penduduk sambil senyum menawarkan jasa kelola limbah rumah tangga. Plester Co.

Hasilnya sederet nama pelanggan percobaan di kertas yang kupegang tambah satu orang nelangsa yang langsung ambruk di pojok taman sana, haha.

“Si Mi curang!” protes Pareta, mengeluh di depan Niki dan semua anggota Geng Plester. “Dia seharian ini cuma nyatet terus basa-basi sama orang doang.”

“Hei!” sanggahku, hendak bela diri. “Ngeyakinin orang buat jadi pelanggan kita juga butuh skill, tahu.”

“Pelanggan, huh?” Niki mendekat. “Coba lihat kamu berhasil dapat pelanggan berapa.”

Kuasongkan papan dada di tangan lalu bergabung dengan yang lain.

“Kita baru keliling seperempat kota—”

“Hari pertama seperempat kota dan badanku udah pegal-pegal!” sahut Pareta dari belakang, menyusul terus duduk bersama geng kami. “Aku gak mau ikut kamu besok, Mi.”

“Hem.” Terserahlah, toh hari ini sudah selesai. “Ya, ya, kamu bebas mau ngapain aja besok, Pare.”

“Lima belas orang di hari pertama, gak buruk.”

Komentar Niki pas mengembalikan papan dada terdengar sinis serta agak remeh, tapi itu wajar. Lima belas pelanggan uji coba setelah panas-panasan seharian bagi ia dan gengnya yang biasa keliling kota memang tampak sepele, meskipun buatku mereka pembuka yang lumayan baik.

“Seenggaknya mulai besok aku ada kerjaan,” balasku menerima papan dada tadi, “ketimbang nganggur.”

Cih! Serah.”

“Lima belas pelanggan. Serius besok mau lanjut keliling kota lagi, Mi?”

Kudeliki Pareta lantaran ia menanyakan hal yang sudah jelas, sebal.

“Gak usah melotot,” pintanya sambil sigap menyilangkan tangan depan dada dan ambil jarak, pertahanan diri menghadapi delikanku sebelum fokus memperhatikan Niki di depan sana. “Kita, kan, fren.”

“Perhatian semuanya ….”

*** 

“Yakin gak mau ikut kita ambil makan di alun-a—”

Besoknya, sesuai rencana, kubekap mulut Pareta pas ia menyapaku depan penginapan lalu melengos ‘tuk memulai hari. Gak ada yang perlu kubicarakan lagi soal kegiatan kami pagi itu.

“Mi, tunggu!” Dan, ia yang katanya gak mau ikut aku hari ini malah menyusul. “Kamu gak dengar omongan Niki semalam, pemkot bakal bagi-bagi duit, seratus suth per orang sama seratus mapuluh kalau bawa bayi atau anak-anak?”

Kutoleh mukanya sekilas, terus balik fokus lihat ke depan.

Lihat selengkapnya