“Ah. Pagi, Merah.”
Satu minggu kemudian, dua minggu dari kedatanganku ke Yotaar, dan seminggu sejak Plester Co. berdiri.
Tujuh hariku bolak-balik menyeberangi jembatan selatan kota sambil mengetuk pintu-pintu rumah di sana tanpa bosan kini berbuah, seperdelapan dari total komunitas area kumuh tersebut telah berhasil kucatat sebagai pelanggan uji coba.
Gak buruk, bukan?
Tentu, ini bukan hasil kerjaku sendiri.
“Siap buat hari ini, Sobat?” tanyaku selesai dari kamar mandi, menyambar gagang kapak perang sama tas selempang lalu melangkah ke luar kamar, semangat. “Jadwal kita lumayan padat ….”
Keliling seratus enam puluh blok, menarik kresek-kresek sampah ke atas punggung Kelabang Merah pakai Benang Pandora, mengetuk pintu calon pelanggan baru, kemudian menyebar selebaran iklan selesai dari TPA sekian mare arah tenggara kota.
Belum selesai. Sehabis itu aku juga ada wawancara sama para calon pekerja magang di taman kota. Bukan mau sok keren, tapi seratus enam puluh blok lebih gak mungkin terus kusisir setiap hari sendiri, ‘kan?
Makanya sekarang kubuka lowongan kerja, berharap pintu-pintu berkah makin terbuka kalau jalan rezeki kulebarkan ‘tuk banyak orang. Toh, niat awalku bikin usaha ini pun memang biar lapangan kerja meningkat dan angka tunakarya turun.
“Kalian ….?”
“Sobet, Bos. Ini, Potur. Kami mau melamar jadi pegawai Plester Co.”
Kalian tahu, dua karyawan pertama Plester Co. beberapa hari kemudian adalah seorang laki-laki kurus dan seorang pria gempal. Kombinasi unik yang kalau dibayangkan ibarat nol dengan koma.
Namun, keduanya jujur dan mudah diajari. Jadi bukan masalah. Kan, yang kubutuhkan tenaga mereka.
Selang sekian waktu, Plester Co. kembali meningkatkan diri dengan memesan seragam dan memperbarui kontrak kerja sama layanan. Beberapa poin selanjutnya kuevaluasi supaya pekerjaan lebih efektif, tertata, serta sistematis secara konsep maupun praktik di lapangan.
Hal-hal terkait jabatan, pembagian wilayah, perangkat juga alur kerja pegawai, semua kureka sedemikian rupa biar Kelabang Merah mudah mengangkut kresek-kresek dari kota ke TPA sekali jalan.
Puncaknya, dua bulan kemudian kami sudah bisa menyewa kantor dengan empat kendaraan operasional lalu truk pengangkut tadi bertambah jadi enam belas unit di bulan keempat. Haha.
***
“Hoi, Mi!”
“Ah, Pak Simon.”
Aku turun dari truk sampah lantas menyapa pelanggan pertama Plester Co. tersebut.
“Anda kelihatan makin cerah, Pak Simon.”
“Hoho, kamu ini. Justru yang makin cerah itu kamu, Mi,” balas beliau, cekak pinggang sembari tersenyum. Hangat seperti biasa. “Bawa pegawai baru lihat-lihat lokasi lagikah?”