Plester Co.

Saepul Kamilah
Chapter #5

Mobil Kantor

“Udah siap semua?!” 

“Serius gak mau ganti ke tuksedo aja, Bos?” tanya Wiji begitu lihat busanaku ‘tuk acara malam ini, makan malam di Rumah Wali Kota Mungli, delik dan gerak kepalanya bak menyiratkan kecewa. “Acara Wali Kota, loh. Semiformal.” 

Hariku sebagai CEO Plester Co. berlanjut. 

Laporan dan jadwal acara silih ganti menyapa meja kerja di siang hari, sedang pada malamnya diriku masih dipaksa ikut acara yang sebetulnya, kalau boleh kubilang terus terang, tidak ingin kudatangi sehabis capek lembur macam sekarang. 

Meskipun gak tiap hari ada, acara sosial demi bisnis modelan begini buatku menyebalkan. 

Balik ke busana ….

“Memang kenapa sama pakaian saya?” tanyaku merespons mata orang-orang kantor sebelum berangkat ke acara malam itu, “rapi, kok. Sopan juga. Apanya yang salah?” 

“Bos.” Sisi mendekat. “Bukan maksud apa-apa, tapi kostum pertapa Anda mungkin bisa dicopot dulu—khusus malam ini, tolong. Kita mau ke tempat Wali Kota, betul kata Wiji. Acara semiformal.”

Hah?! 

Memang apa yang salah dengan jubah pertapa. Toh, diriku benar seorang pertapa walau bukan garis keras lantaran pernah menikah dan punya anak. Mataku mulai mendelik di sini. 

Heran. 

Jika masalahnya adat, ya, kebiasaan berpakaianku sebagai orang Eldhera Timur mungkin kurang elok bagi standar penduduk Benua Baru zaman ini. Terlebih, sekarang orang sudah tidak lagi punya batas kelompok atau marginalisasi kian pudar sampai semua hal dituntut harus sama. Diriku sadar.

Hanya, aku menolak ‘tuk tunduk pada norma semacam itu. Titik.

“Gak. Jubah, jumsuit, mantel, sandal, sama cepol saya udah bagus. Enggak ada, ya, tuksedo-tuksedoan.”

“Tapi, Bos—”

“Saya kira gak apa-apa kalau si Bos pengen pake baju dia,” ucap Stevan, Kepala Bagian Humas dan Manajer Pemasaran Plester Co.-ku dari arah sofa. “Toh, sehari-hari juga penampilannya begitu, ‘kan?”

“Nah!” Telunjukku spontan mencuat pada si lelaki klimis, merasa dapat dukungan. “Kalau ganti dandanan gegara ini acara sama pejabat, itu namanya tumben. Sesama laki-laki, paham pikiran laki-laki!”

“Beda, ya, cara pikir penjilat mah.” 

Begitu celetuk Wiji sambil melihat ke teman sesama manajernya dan Sisi tersebut. 

Namun, tidak berdampak apa-apa sebab kami tetap berangkat dengan dandananku yang ala biasa. 

Jubah Bukit Muara dirangkap jumsuit, celana kodok, berbahan kulit beruang asli dan Mantel Duyung Ungu sebagai tambahan luar. Kebanggaanku sebagai penduduk Eldhera lintas zaman.

Lihat selengkapnya