“Kita sampai ….”
Hem. Bagaimana aku mengatakan ini?
Roda Bara, yang kukira tongkrongan superramai dengan mobil juga motor-motor hasil modifikasi, ternyata sebuah gerbang pinggir kota. Segitu saja. Benar-benar gerbang antara deretan pagar sekian belas kaki berkawat duri pembelah barisan pohon di kanan kiriku sama sisi seberang sana.
Bahkan setelah kupakai Mata Perak buat mengintip ke dalam, penampakan yang kudapat sesuai kemasan luar.
“Kabin kayu sama seorang penghuni …,” gumamku sebelum menggeser si Jago ke dekat Lame dan pria yang tengah ia ajak bicara, “Bung Lame, candaanmu ini sungguh tidak lucu.”
“Eh, ada apa, Bung Mi?”
“Kukira dirimu baik hati,” kataku lekas turun dari mobil dan menenteng Kelabang Merah, kapak perangku, menghampiri mereka. “Mau menemaniku melihat Roda Bara—”
“Wow, wow, wow!”
Ia sigap menjaga jarak sembari mengacungkan tangan, sedang pria yang tadi bicara dengannya segera menarik pistol dari pinggang kemudian menodongkannya ke arahku. Isyarat agar diriku jangan buru-buru mendekat.
“Bung Mi, Bung Mi, apa barusan diriku tidak sengaja menyinggungmukah?”
“Tuan, saya tidak tahu ada apa, tapi tolong letakkan kapak dari bahu Anda itu di tanah.”
“Huh.” Aku mendengkus. “Tidak ada yang bisa memerintahku di medan perang.”
“Wow, Bung Mi—Bung Miii … Bung Mi.” Lame semakin menjaga jarak. “Sepertinya kita ada salah paham di sini. Tolong beritahu kami dulu, kenapa kau bisa sampai semarah ini, oke?”
“Tuan, tolong tenang.”
“Kukira kesepakatanmu dan diriku adalah datang ke Roda Bara buat menonton jagoan-jagoan yang kaubilang sebelum kita sepakat pergi bersama berlaga. Benar begitu, ‘kan, Bung Lame?”
“Be-benar, benar! Itu Benar. Kau dan aku akan melihat penampilan L-269 milik Lucy di arena!”
“Lantas kenapa kau malah membawaku ke hutan pinggir kota begini, hah?!”
Lame dan orang sebelahnya sontak silih lirik sebelum keduanya kompak tertawa berbarengan.
“Hahaha … Bung Mi—”
Kutodongkan Kelabang Merah pas Lame mau mendekat, membuat ia segera mundur kembali terus berbalik arah dan sembunyi di bahu orang yang sedari tadi menodongiku pistol.
“Tuan, mungkin Anda salah paham. Roda Bara, me-memang di sini.”
Aku celingak-celinguk, sekali lagi memeriksa sekeliling pakai Mata Perak.
“Bohong!” bentakku kemudian, mendekat selangkah dengan kapak perang siap diayun. “Cuma ada kabin tua di depan, dan tidak ada orang lagi selain pak tua yang sekarang sedang membakar daging apalah di sana. Jangan coba-coba menipuku, Kaliaaan—”
“Tungguuu!” teriak Lame, ia melompat dan mengacungkan tangan menahanku. “Tunggu, Bung Mi, tunggu … kau salah paham. Salah paham, oke?”
“Apanya yang salah?!”
“Roda Bara, di atas sanaaa ….”
Pria kekar kita kembali berteriak, kali ini sembari memejamkan mata dan menunjuk langit di kejauhan.
Menunjukkanku penampakan Roda Bara. Yang, kalian tahu, ternyata menggantung terbalik di atas hutan dan kabin kayu tua di bawahnya.