Plester Co.

Saepul Kamilah
Chapter #9

Pelabuhan Telapak Besi

“Kau lagi apa di sana, Bocah?”

Setengah tahun sejak kali pertamaku ke Benua Baru, lusinan perahu terbang berbondong-bondong berlabuh di sudut tanah asing ini. Berburu perawan—ah! Maksudku mencari keberuntungan di tanah hijau yang masih asri dan belum terjamah oleh manusia, begitu. Hadeh. 

“Kutanya kau lagi apa di sini, Bocah …?” 

“A a a, sakit, sakit, Guru. Sakit.”

Wanita yang menjewer kupingku ini Nyonya Kyongdok, Dewi Telapak Besi Teratai Perak, kepala sekaligus pemimpin ekspedisi pertama Perguruan Telapak Besi ke tanah asing—Benua Baru. 

Adik Ketua Padepokan Telapak Besi sendiri. 

Guruku sekaligus ibu angkatnya Doll.

“Bagus, ya, Bocah!” ujar beliau, akhirnya mau melepaskan telingaku kendati langsung cekak pinggang sembari melotot. “Kau enak malas-malasan di sini padahal pekerjaan kita di pelabuhan masih segudang, hah?!” 

Temperamen guruku memang mudah meledak dan ringan tangan macam julukannya: Ratu Seribu Pukulan Kencang. Meskipun hati beliau aslinya baik, kalau sudah kenal dekat. 

“Hem.” Ngomong-ngomong, segudang kata beliau tadi itu betulan segudang, soalnya pekerjaanku sama para murid Telapak Besi memang membongkar barang-barang muatan dari kapal ke lumbung darurat di pelabuhan yang belum selesai dibangun sekian bulan kami di sini. “Bukannya sekarang hari libur, ya, Guru?”

Beliau agak tersentak dengar alasanku. 

“Libur?”

“Betul,” lanjutku merasa ada di posisi yang benar, “Raja Sheng membawa tentaranya buat membabat hutan di timur laut, katanya bakal lahan kemah baru. Dia juga bilang kalau kita harus i—”

“Terus kenapa kau malah jongkok di situ tadi, hah …?” sela Guru Kyongdok, melipat tangan dan melirikiku curiga. “Aku baru dengar soal si Sheng mau buka kemah baru, harusnya dia memberitahuku dulu kalau mau membawa murid-murid telapak besi kita, ‘kan?”

“Ahaha.” Kugaruk pipi sembari melihat ke arah lain. “Soal itu …, murid—” 

“Guru!” panggil seseorang, Doll, yang segera menghampiri kami begitu kepalaku dan Guru menoleh. “Guru. Di sini, apa sedang?”

Eh, ya! Bicara istriku memang begitu dulu, sudah unik dari sananya, jadi jangan mengeluh kenapa dialognya kutulis kebalik-balik di kolom komentar nanti. Ya? Tolong. 

“Mi.”

“Hai, Doll.”

“Oh, aku tahu!” teriak Guru tiba-tiba, “kau barusan sedang mengintipi putriku, ya, hah—dasar bocah nakal.” 

“Ti-tidak … bu-bukan, Guru. Aku tidak mengintip ….”

Aslinya aku memang mengintip Doll yang tadi tengah melatih Tinju Beruang dan seri Pukulan Telapak Besi di halaman tenda putri. Cuma, ya, gak mungkin kuakui depan mereka berdua juga, ‘kan? 

*** 

Lihat selengkapnya