Konon, barang-barang pasar dunia kecil ini punya riwayat perjalanan jauh. Mereka telah melintasi setidaknya dua atau tiga kanal pemeriksa sebelum berakhir tersenyum menyapaku macam sekarang ….
“Hem.”
“Pe-pelanggan.”
Aku bangkit kemudian menoleh, pegawai stan yang menemaniku keliling dan berbelanja lekas mendekat dari arah pintu, dan barang-barangku yang menutupi setengah wajahnya tampak begitu berat ketika itu.
“Pe-pelanggan,” panggil si pegawai ‘tuk kedua kali, ia taruh belanjaan di lantai kemudian atur napas sebelum lanjut bicara. “Hah … Pelanggan, a-apa Anda tidak bawa kantung dimensi?”
Begitu tanyanya pas membuka topik, menjeda kegiatanku melihat-lihat barang dagang di toko tersebut.
“Kantung dimensi.” Ia menjelaskan. “Macam cincin ruang, ornamen giok sihir, atau sabuk mutiara ajaib buat menyimpan barang-barang Anda. Tidak punyakah?”
Entah kenapa, tapi satu sudut bibirku tiba-tiba naik mendengarkan ucapannya.
“Apa di pasar ini ada yang jual benda ajaib semacam itu?”
“Kebetulan toko kami punya koleksi kantung dimensi terbaik se-Roda Bara,” timbrung seseorang, wanita, bergaun indah, kerudung cantik meski tidak menutupi sebagian rambut, serta sangat wangi.
Si wanita mendekat diikuti dua perempuan lain dengan stelan lebih sederhana, tapi tetap rapi walau tak sewaw orang yang mereka ikuti. “Maaf barusan tiba-tiba menyela,” ujarnya yang lantas menganggukkan kepala, “saya manajer toko sederhana ini, salam.”
“Sa-lam.”
Kutoleh orang yang menemaniku, gerakan spontan pas dengar suara sang manajer toko.
Dan, kalian tahu apa?
Wajahnya tampak berseri-seri menatap si wanita seakan rasa capai yang ia tunjukkan padaku sesaat lalu tidak pernah ada, sirna begitu saja.
“Salam,” kataku lekas mengangkat semua belanjaan menghalangi mereka pakai Benang Pandora, “aku butuh tas buat menyimpan kotak-kotak hadiah ini, ada—”
“Tentu saja ada!” sambar orang sebelahku antusias, dia bahkan kelihatan lebih semangat daripada manajer sama dua asisten di seberangnya. “Anda harus tahu ini, Pelanggan, toko Nona Wagjun termasuk satu di antara empat belas toko terbaik milik pasar kami.”
“Ahaha, Anda terlalu memuji.”
“Wagjun?”
“Ah.” Si wanita mendekat merespons kebingunganku. “Di mana sopan santun saya,” ucapnya sebelum lanjut mengenalkan diri, “perkenalkan, saya Wagjun, perintis toko sederhana ini.”
“Bukanya situ tadi bilang manajer?”
“Manajer merangkap pemilik, Pelanggan,” jelas orang di sebelah.