“Bung Mi!”
Kulambaikan tangan membalas lambaian lelaki kekar bertato kita di bawah sana, mendekat padanya, kemudian turun dan kembali mengenakan Mantel Ungu sebagai jubah pertapa.
“Wah! Bung Mi, aku baru tahu jubahmu ini ternyata pusaka terbang ajaib,” akunya sembari melihati mantel unguku dengan mata penuh binar, “pantas dirimu kelihatan bangga pas memakainya ke mana-mana.”
“Berhenti menatap mantelku, Bung Lame. Aku mencarimu ke mana-mana tadi, kau tahu.”
“Eh? Benarkah?”
Kujulingi dirinya tanpa suara.
“Ya, ya, ya.” Lame segera angkat tangan. “Ini juga pengalaman pertamaku mendarat di tempat berbeda dengan orang yang naik ke Roda Bara dari gerbang yang sama, Bung Mi. Padahal kita sama-sama masuk lewat gerbang di hutan Xelowa. Sudahlah, tolong jangan mendelikiku begitu.”
Kulambaikan tangan tak peduli lantas balik badan buat melihat lintasan balap di bawah kami.
“Terserah. Beri tahu saja apa yang sudah kulewatkan sejauh ini, Bung. Dan, mana jagoanmu?”
Lame ikut melihat mobil-mobil di bawah.
“Sebenarnya dirimu belum melewatkan apa-apa, Bung Mi,” ujarnya sebelahku, “kau lihat layar besar seberang kita di sana itu, ini masih di perempat babak penentuan nomor urut.”
“Belum mulai?!”
Kembali, Bung Lame angkat tangan sambil geleng menepis lemparan delik penuh tanyaku.
“Kukira seminggu ini kalian sudah punya jawara, Bung. Benar-benar …, kau tahu, mengejutkan.”
“Balapan di Roda Bara berlangsung selama dua puluh hari,” terangnya sambil menunjuk layar besar di tengah-tengah arena dengan waktu hitung mundur menyala merah, “pertandingan utama baru akan mulai empat hari lagi. Ah, ya! Bung Mi, masih belum terlambat buatmu kalau mau lihat-lihat sebelum memilih jagoan.”
Hem. Aku kadung hilang minat sebetulnya. Sejauh yang kulihat suasana di sini benar-benar cuma riuh.
Meja taruhan sesak setiap kali mobil baru melaju secepat kemampuan mesin dengan roda-roda mereka, layar-layar besar di tengah arena silih ganti menampilkan gambar pengundang tawa, dan terakhir sorakan penonton pas jagoan-jagoan di arena balap menyentuh garis finis kadang juga bikin pekak. Ampun.
Sayang di antara kemeriahan-kemeriahan tadi tak ada hal istimewa atau menarik perhatian sampai pengalaman pertamaku mengunjungi Roda Bara tersebut usai ….
***
“Bos?”
Hingga diriku kembali ke kesibukan di Kantor Plester Co. ‘keesokan’ paginya.
“Perabot-perabot kantor—”
“Mereka saya beli pas main ke Roda Bara tadi malam,” selaku tanpa menoleh dan sambil memeriksa laporan Wiji, “ah, ya! Sisi, di sebelah ada oleh-oleh. Tolong kamu bagi ke pegawai sama tetangga kita, ya?”
“Oleh-oleh?”