Plester Co.

Saepul Kamilah
Chapter #13

Mundur?

Dua setengah tahun. 

Plester Co. sudah jalan dua setengah tahun, punya tiga cabang usaha, pelanggan di lebih dari dua puluh satu kota termasuk di antaranya Mungli, Sebek, Yotaar dan Stuckenborstel. Empat kota pertama yang kujelajahi sembari meraba-raba Benua Baru zaman ini. 

Dan, aku tidak ingin berhenti. 

Seandainya saja dua tahun lalu diriku tidak menyadari dunia-dunia lain di atas sana, mungkin Plester Co. sudah kujadikan satu-satunya penyedia jasa kelola limbah kota di tanah ‘asing’ ini. Namun, jangan pernah salah kira, sebab kehidupan yang terbagi siang malam sejak dua tahun silam itu pun tak pernah kusesali. 

Malah, dia menjadi lebih menarik. 

“Bos. Area sini sudah kami periksa, gak ada masalah. Kita bisa mulai operasi pembersihan dari blok depan.” 

Siang hari peranku sebagai CEO Plester Co. memberi tanggung jawab atas sumber penghidupan delapan ratus lebih pekerja di dua puluh satu kantor—utama beserta cabang-cabang—nya yang tak boleh berhenti mengalir. 

“Lanjut fase dua, Sobet. Atur semua kayak biasa. Saya gak balik kantor lagi habis ini.” 

“Ah! Rebes, Bos. Tenang saja, semua aman sama saya.” 

“Bagus ….”

Sedang pada malam harinya dunia-dunia kecil di atas sana menjadi hiburanku. 

“Chloe. Berapa kanal kecil yang masih ada?” 

[Satu.] 

Meskipun sekarang adalah malam terakhir mereka ….

*** 

“Pagi, Bos.”

“Pagi, Potur. Kalian dah makan?”

“Ahaha, ini lagi, Bos.”

“Lanjut, ya.”

“Pagi, Bos.”

“Pa—”

“Bung Mi!” 

Aku berhenti tepat di depan pintu lobi, kemudian berbalik. Respons terhadap panggilan pria kekar berseragam lengkap dengan topi dan kacamata hitam kebiruan yang baru saja memanggil. Bung Lame. 

“Tumben, pagi-pagi gini udah di si—” 

Lihat selengkapnya