“Hampir lima tahun dan mereka masih sama ….”
Aku turun dari mobil lalu mengganti Mantel Ungu dengan Mantel Jerami—masih mantel pertapa, tapi sedikit lebih merakyat ketimbang jubah tetua sekte pertama. Selanjutnya kuketuk kaca pintu si Jago pakai buku jari, isyarat agar sedan hitam satu itu melaju dan mencari tempat buat menepi sendiri.
Urusan di kota ini menuntutku ‘tuk tidak menunjukkan isi dompet ….
***
“Buat apa kamu ke sini?”
Tadinya, kupikir bicara dengan teman akan lebih mudah karena pernah punya pengalaman selingkung.
“Cuma kebetulan mampir terus lihat kalian.” Ternyata enggak juga. “Iseng aja main ke sini ….”
Niki, dengan gaya khasnya, cekak pinggang dan mendongak pas dua anggota Plester membawaku ke kemah sementara mereka dekat mulut terowongan pengendali banjir bawah kota Veres—sangat ‘ramah’ buat ukuran kawan lama. Penampilan si ketua geng juga tidak banyak berubah, cuma ada tambahan pelindung di kedua kaki sampai lutut sama sarung tangan berduri sebelah kanan. Rambutnya masih sependek lima tahun lalu.
“Gimana usaha kamu, Mi?” tanyanya, terdengar mengejek serta sesinis saat ia melihat papan dada hari pertama Plester Co. kumulai. “Masih mulungin sampah di Sebek, ‘kan?”
Aku celingak-celinguk, terus jalan dan duduk di sofa bekas rusak dekat dinding.
“Aku udah gak di Sebek—”
“Bangkrut, ya?!” potong Niki yang juga menyambar kursi lipat kemudian duduk di depanku, “jadi ceritanya sekarang kamu mau minta gabung sama kita lagikah?”
Hem. Aku sudah ingin menyangkal, tapi pas ingat rencana segera kutahan diri terus lanjut rebahan saja.
“Jubah baru kamu emang lebih cocok daripada yang kemarin, Mi.”
“Emang kenapa sama yang kemarin?”
“Kebagusan!” timpal si ketua geng sambil buang muka, “yang sekarang ini baru pas buat gelandangan kayak kita-kita—eh, ya! Jubah itu kamu jual apa gimana?”
“Yang ini dari jerami, aslinya bukan gelandangan doang yang bisa pake. Enggak usah bahas jubah, aku aslinya pengen ajak kalian kerja. Ngehasilin uang sendiri.”
Kalian tahu, atmosfer lembap gorong-gorong setengah gelap itu tiba-tiba jadi mencekam. Bukan karena apa-apa, perubahan aura Niki sama gerakan anggota-anggota Plester di belakang pas dengar tawaranku tadi sontak menghadirkan kesan sunyi ke tengah-tengah kami. Apalagi setelah delikan si ketua geng mencegah anak-anak buahnya tersebut buat berani mendekat.
“Maksudnya ikut jadi pemulung kayak kamu?”
“Bukan.” Kurapikan dudukku sebelum lanjut berkata, “Kerjaan beneran, kalian dibayar terus dapat ma—”
“Pergi!” Yang, sialnya, langsung kena tolak tanpa diberi kesempatan buat dapat pertimbangan. “Gak usah sok baik, baju kamu aja enggak lebih bagus dari yang terakhir kita bareng dulu.”
‘Hem. Padahal yang ganti cuma mantelnya doang,’ batinku lantas coba membujuk Niki. “Serius. Ini aku mau nawarin kerjaan beneran, kalian bakal dibayar buat—”
“Cukup!” Si ketua geng mendelik, aura sekitar dirinya ikut menajam saat itu, dan ia kemudian bangkit. “Pintu keluar ada di sana, gak perlu kuantar, ‘kan?”
Cek! Karena situasi tumbuh ke luar rencana, kukira obrolan kami harus kujeda dulu.