Tahun lalu, di Kantor Wali Kota Mungli.
“Kita sudah mencoba banyak cara, tapi kenapa tak satu pun dari dua ratus lebih pangkalan Anda yang berhasil membuka jalur pengiriman barang-barang saya?”
Ketika dua kupingku harus sabar mendengarkan keluhan sang empunya kota sambil duduk manis di sofa ruang kerjanya tanpa bisa banyak bicara atau membantah ….
“Tuan Mi, tolong. Saya berani mendanai Plester Co. karena yakin barang-barang saya akan lebih cepat sampai ke tangan pelanggan lewat kurir-kurir Anda dan bukan malah sebaliknya, setengah barang-barang saya selalu hilang di hampir setiap ekspedisi—itu semua kenapa?! Jelaskan! Jelaskan apa masalah kita, Tuan Miii?!”
Hem. Kudorong ujung tongkat Wali Kota Mungli dari depan mukaku, tersenyum, kemudian baru menjawab.
“Dengan segala hormat, Pak Wali Kota, barang-barang ekspedisi ‘kita’ terendus oleh Badan Pengawasan Lalu Lintas Dagang dan Biro Keamanan Internasional. Dua organisasi ini bukan cuma ahli, tetapi juga punya back up yang benar-benar kuat. Jadi saya tidak akan bela diri, kegagalan-kegagalan operasi kita sepanjang tahun-tahun ke belakang sampai bulan lalu hendaknya menjadi bahan evaluasi bersama.”
“Saya bukan sedang menyalahkan Anda …,” balas si pria gendut, mimik dengan gestur tubuhnya tidak sinkron sama apa yang baru diucapkan. “Hanya mengeluh, uang saya hampir habis di investasi ini. Anda paham sekrisis apa keuangan saya sekarang, ‘kan, Tuan Mi? Tuan Mi?”
Sekali lagi, aku tersenyum sebelum menanggapi.
“Maaf bila jawaban saya kurang mengenakkan. Akan tetapi, Pak Wali Kota, dua puluh satu cabang pertama Pester Co. ada di sisi kiri pada peta Anda. Arah barat Mungli.”
Pria gendut itu menoleh gambar besar di belakang sekretarisnya dan Sisi, peta provinsi yang menggantung di salah satu dinding ruang kerja tersebut.
“Tim saya ….” Kulirik manajer keuanganku sekilas. “Sudah menyarankan kita kenapa tak lebih fokus pa—”
“Tiga puluh empat cabang usaha Anda juga ada di kanan peta saya!”
Begitu sela si gendut, muka tidak puasnya amat kentara pas menatapku.
“Jangan pikir saya tidak tahu …,” lanjutnya, “Anda diam-diam bahkan sudah melebarkan sayap dan mengirim proposal ke delapan puluh sembilan dinas kota—ah, harusnya dua bulan lagi Plester Co. merayakan peresmian cabang keseratus empat puluh tiga, bukan?”
Asem. Aku gak bisa bilang apa-apa disekak olehnya macam barusan.
“Saya rasa tak terlalu cepat bila kami mengucapi Anda selamat hari ini,” ujar si laki-laki gendut, muka kesalnya beberapa detik lalu kini berubah bangga. Menyebalkan. “Terlebih kemajuan Plester Co. tadi seharusnya juga berarti kemajuan untuk usaha-usaha kita di masa depan. Benar, ‘kan, Tuan Mi?”