“Oi, kalian ….”
Spontan mataku terbuka, kapalaku kemudian menoleh ke para tunawisma di bawah.
Mereka yang di bagian sebelum ini mengeluhkan dinas dengan aparat ketertiban kota serentak terperanjat lalu buru-buru meraih kayu setengah hangus sedapatnya. Hendak dijadikan pegangan, alat ‘tuk mempertahankan diri, seadanya memapak orang-orang yang baru datang.
Kelompok yang juga baru kulihat malam ini ….
“Mulai jembatan sini sampai blok pertama pinggir kota sana wilayah kami. Geng Codet.”
“Dengar gak kalian, Dungu?”
“Lihat tiang itu?”
Orang-orang yang baru datang tadi merujuk tiang jembatan di bawahku.
“Mulai malam ini, siapa pun yang tidur dekat tiang itu kudu bayar ….”
Hem. Aku menjuling singkat. Jelas aku keberatan.
“Kalau gak mau—”
“Kalau gak mau apa?!” selaku, melompat dari besi jembatan tempatku rebahan dan mendarat di tengah-tengah mereka penuh gaya. Mantel jeramiku bahkan sempat berputar-putar bak baling-baling kapal di udara sebelum akhirnya berkibar sebentar begitu kakiku menginjak tanah. Hehe.
Gerakan keren, menurutku. Akrobatik. Juga layak disorot lantaran sering muncul di adegan-adegan heroik.
Sayangnya, selera orang zaman ini berbeda. “Ke-kenapa cuma bengong—mana jerit sama tepuk tangannya?”
Tidak tampak raut kagum yang kumau.
Wajah mereka, orang-orang di depan dan belakangku, semua datar. Hem.
“Gak seru!” cicitku lantas cekak pinggang dan berlagak, “kalian, di ujung jembatan ada lubang saluran drainase kota, di sana tempat Geng Plester. Jadi gelandangan solo di Veres udah gak asyik, kalau gabung mereka kalian-kalian enggak usah takut sama berandalan macam gini—”
“Oi!” bentak tunawisma di depan, menodongkan pemukul yang sudah dikasih paku. “Kamu pikir kamu itu pahlawan, hah? Kesiangan, tahu gak!”
Aku tahu, ini kemalaman malah.
“Huh.” Aku mendongak. “Pahlawan tuh masih kebagusan kalau cuma buat ngejitak berandalan kek kalian.”
“Kurang ajar—seraaang ….”
Sementara para tunawisma di belakang langsung kabur, mereka yang berhamburan dari arah depan ketika itu malah membuat perutku geli. Lucu saja.
Muka, bahu, sampai ke cara lari.