Plester Co.

Saepul Kamilah
Chapter #20

Stuckenborstel

“Mereka masih di belakang?” 

“Di depan ada terowongan, Bos. Kita bisa pakai itu buat ngecoh sama—” 

Segera kuinjak pedal gas dengar saran Wiji, memburu terowongan yang hendak si Jago pakai ‘tuk mengecoh orang-orang Wali Kota Mungli. Bruuum ….

*** 

Tadi sore. 

“Mi ….” 

Sesaat sebelum melepas skuad Plester ke misi balas dendam mereka. 

“Bisa kita ngomong bentar?” 

Ketika Niki mengajakku ‘tuk bicara empat mata di ujung koridor …. 

“Soal obrolan kemarin,” sambungnya, tatkala dirasa sudah tak ada orang sekitar kami. “Aku dah pikirin semua mateng-mateng. Kamu bener. Balas dendam emang gak bagus.” 

Kalian tahu, aku rada berharap sebetulnya, sebulan ini dadaku kembang kempis tiap kali lihat gadis di depanku berlatih. Meski sekilas, kejadian bulan lalu masih suka terbayang-bayang terus gak jarang kebawa mimpi. 

Kalau saja obrolan sekarang soal kelanjutan hari itu, akh! 

“Cuma ….” Niki memegang sikut, wajahnya agak tertunduk menghindariku. “Mi, aku tetep gak bisa maafin mereka. Semua yang udah mereka lakuin—gak ke Plester doang!” 

Mata yang berkaca waktu meneriakkan jerit pelan barusan terasa begitu menusuk. 

Hatiku seolah ikut tercabik lihat dirinya terisak dengan bahu gemetar begini. Dadaku mendadak sesak. Macam ada bara yang baru saja terpantik di dalam sana. 

Dan aku tidak tahu kenapa ….

“Aku tahu sikap begini salah,” gumam gadis di depanku, ia kembali tertunduk dan menghindari kontak mata langsung. “Se-semoga kamu gak kecewa, Mi. Aku udah berusaha ….” 

Si kapten skuad kini tersenyum, senyum pahit yang kulihat terakhir kali. 

“Ah, ya! So—” 

Wajah Niki sempat terangkat, dan di saat itulah diriku tidak bisa lagi menahan diri. 

Jika bulan lalu gadis ini mendobrak pertahananku, sekarang gantian. Kini giliranku yang tutup mata melumat bibir lembutnya tanpa aba-aba …. 

“Niki,” panggilku sesudah adegan singkat tadi putus, “aku gak bisa berhenti mikirin kamu. Kalau kita berdua masih hidup setelah operasi malam ini ….” 

Kuakui diriku tidak berpikir pas menyatakan perasaan terus janji ‘tuk menikahinya. 

Namun, nasi kadung jadi bubur, kurasa aku tetap harus bertanggung jawab dan berjuang sekuat tenaga sampai acara kejar-kejaran ini tuntas. Ya, ‘kan? 

“Bos, terowongan di jalur dua abis tikungan depan ….” 

*** 

Lihat selengkapnya