Plung!

Andriyana
Chapter #3

Satu Plung!

"Tai lagi-tai lagi!" Umpatan Belutijo selepas dia terjengkang persis dekat kosen pintu kamar mandi. Suara bokong beradu dengan lantai tanah merah pada waktu sejuk pagi menjadi sebab Karmenti berlari seperti mencelat menuju asal suara.

Wajah Karmenti me-merah melihat Belutijo yang baru saja mengangkat wajahnya lantaran terjengkang tadi. Sesaat Belutijo menyadari Karmenti sudah berdiri tak seberapa jauh dari dirinya, kembali dia mengumpat sembari memelotot, "Tai!" serunya dengan mata mendelik kepada Karmenti.

"Jatuh, Pak?" tanya Karmenti masih dengan wajahnya yang me-merah bukan karena marah, melainkan akibat suhu udara Desa Samartani yang masih dingin. Sepasang mata pada wajahnya yang tertunduk sempat sekali melirik kepada Belutijo yang perlahan-lahan bangkit dengan menegakkan kedua tungkai kaki. Tubuh Belutijo yang gempal dengan buncit perut sudah lumayan tegak meski agak doyong ke depan. Kedua tangannya memijat-mijat pinggang.

Karmenti geming sembari menunggu jawaban dan tingkah Belutijo selanjutnya.

Seluruh isi dapur rumah mereka berdua sama gemingnya dengan Karmenti. Tungku yang masih menyisakan bara hati-hati melepaskan asapnya pada langit-langit dapur. Meja-kursi makan, kosong tanpa piring gerabah berisi lauk pauk. Hanya seteko berbahan gerabah yang diam terduduk di atas meja dengan sekali waktu menguarkan wangi teh dari moncongnya. Rak perabotan berbahan kayu kuyu di pojokan dapur walau rapi dengan gelas-gelas bambu, gelas-gelas gerabah, dan beberapa piring gerabah serta beberapa alat memasak yang tertata. Seluruh ruang dapur rumah berbilik bambu seolah-olah geming menunggu apa polah tingkah empunya kemudian.

Lihat selengkapnya