Plung!

Andriyana
Chapter #4

Dua Plung!

Lembu yang berjalan melintas di rerumputan basah jalan desa melenguh. Lelaki berpedati mendecak-decak, memberi arahan kepada lembu itu dengan melecutkan ujung pecutnya di udara. Suara menderit dari roda-roda pedati yang berputar tak cepat pertanda lembu itu cukup kewalahan menarik isi pedati dan lelah menyusuri jalan hingga mencapai tujuan disela lecutan yang tak seberapa kerap. Selang tiga puluh meter kemudian, di jalan Desa Samartani yang landai, lelaki berpedati itu mendecak dan memberi isyarat kepada si lembu untuk menyisi seraya menarik tali kekangnya.

"Mbol, istirahat dulu kamu ya, Mbol," ujar lelaki itu kepada si lembu. "Gembolanmu banyak sih ya." Lalu dia terkekeh-kekeh sendiri setelah si Gembol menyahutinya dengan lenguhan. Lelaki berpedati itu pun menjulurkan kedua kakinya satu demi satu, menumpangkannya di kursi pedati yang panjangnya kurang dari satu meter. Belum genap satu menit, badannya tak mendapatkan posisi yang pas untuk dia berleha-leha. Akhirnya dia mengangkat punggungnya dari kursi dan bertingkrang sambil memperhatikan ufuk jalan desa di hadapannya.

Cukup lama lelaki berpedati itu berdiam diri, memperhatikan ujung jalan desa yang persis diapit oleh dua bukit seperti lukisan pemandangan ala anak-anak. Tanpa mengalihkan pandangan matanya, jari-jari tangan kanannya meraba-raba saku untuk merogoh tembakau, kulit jagung kering, dan tetek bengek untuk membuat mulutnya nikmat mengisap rokok klobot yang sudah mulai terampil dilinting oleh kerja sama kedua jari-jemari tangannya. Kurang dari semenit rokok klobot lintingannya pun jadi. Sekali dia menghela napas berbarengan dengan lenguhan si Gembol. Sekali dia tersenyum setelah selirikan si Gembol menemukan wajahnya, lalu si Gembol melengos seperti makhluk yang juga butuh rokok klobot walau tak berasap. Seakan-akan mengerti apa yang Gembol mau, lelaki itu menyakukan semua peranti klobot berikut hasil lintingannya lalu cekatan menjejak jalan desa berumput setinggi mata kaki lantas melangkah. Ember berisi rerumputan hijau yang menggantung dekat pantat si Gembol, dia tenteng dan comot isinya kemudian diberikannya dengan telaten di mulut si Gembol. "Nih, jangan ngerokok, Mbol, ndak bagus buat kesehatan kamu," sindirnya. Selagi si Gembol asyik mengunyah rerumputan hijau, suara berdenting-denting dari kalung lembu di sisi kanan jalan makin jelas.

"Prat, ngaso ya, kusalip ya?" basa-basi seseorang dari pedati yang bergerak.

Lihat selengkapnya