Sejak banjir mulai surut dan hujan perlahan reda, apa yang kami temukan berbeda dengan apa yang kami tinggalkan. Tidak ada sisa-sisa peradaban, gedung-gedung pencakar langit, bangunan-bangunan kelabu, dan jalanan beton yang menginjak habis rerumputan. Alih-alih, kami menemukan banyak sekali pulau. Di masing-masing pulau, pohon-pohon setua Bumi menyembunyikan rahasia yang hanya diketahui oleh waktu—atau Tuhan—atau Siapa Pun yang memilih berdiam di belakang Sunyi. Chelsea dan aku berada di sekoci yang sama. Kami menyebutnya sekoci, bukan karena ukurannya kecil, melainkan karena betapa sia-sia bahtera yang kami naiki dibandingkan dengan besarnya dunia. Jumlah sekoci banyak—entah siapa yang membangunnya—cukup untuk menampung sisa manusia dan hewan-hewan yang tinggal sedikit jumlahnya. Baik Chelsea maupun aku sama-sama terpisah dari keluarga—membuat kami hanya memiliki satu sama lain. Kami sudah saling mengenal sejak bermulanya ingatan. Saat aku berumur tiga tahun, Ibu mengajakku menjenguk tetangga kami yang baru saja melahirkan. Dialah Chelsea—dan sejak itu pulalah, aku sudah seperti saudara baginya, dan ia bagiku.
Chelsea tidak terlihat di mana pun, pondok yang kami tempati pun kosong, tetapi aku tahu ia di mana—pasti di kebun celosia, yang letaknya tepat di belakang pondok kami. Aku sendiri tidak tahu harus mengerjakan apa di pulau ini, selain bertani kecil-kecilan, tetapi aku yang berkebun pun belum pernah, bingung juga harus apa, apalagi cangkul aku tak punya. Akhirnya, pekerjaanku, selain memancing ikan dan memetiki buah-buahan di hutan, hanya menggambar dan mencari tahu apa yang ada di dalam hutan. Lagi pula, tanpa bertani atau menanam apa pun, pulau yang kami namai Pulau Rembulan ini—yang bentuknya konon menyerupai sabit, tetapi agak sedikit cembung, hampir-hampir seperti bulan basal—sudah memiliki berlimpah sumber pangan, yang dapat aku manfaatkan secukupnya.
Bahtera kami tertambat di pesisir yang jaraknya tidak jauh dari pondok tempat kami menetap—ketika beberapa waktu lalu aku menengoknya, bahtera yang dalam ingatanku selalu kokoh dan tak terkalahkan, ternyata sudah keropos di sana-sini, dan sepertinya ada beberapa orang yang iseng mengibarkan bendera berbentuk bulan sabit di salah satu tiangnya, mungkin sebagai penanda. Tetapi aku agak khawatir ada yang mulai membangun negeri, dan menegaskan garis, yang memisahkan milikku dengan milikmu. Beberapa pengungsi lain yang jumlahnya tidak seberapa juga menemukan pondok-pondok terbengkalai di berbagai sisi pulau, lengkap dengan dapur dan kamar mandi, bahkan juga listrik, setidaknya untuk menyalakan lampu, tapi tidak ada benda elektronik yang berlebihan—seperti televisi, pemutar musik, lebih-lebih Intenet. Aku masih membawa ponselku, begitupun Chelsea, tetapi tidak dapat digunakan sebagai Internet, hanya untuk melihat-lihat foto dan video lama, dan menambahkan foto dan video baru. Entah siapa yang membangun semuan pondok dan mengalirkan listrik, sebab aku tidak melihat satu pun tiang-tiang listrik di pulau ini. Malahan, sesuatu yang semula aku sangka tiang lampu pun, ternyata bunga raksasa yang putiknya memancarkan cahaya.
Meskipun aku yakin pulau ini juga terendam banjir saat peristiwa Banjir Besar terjadi, tidak ada kerusakan di mana pun, tidak ada bekas tanah atau air, atau lembap di langit-langitnya, seolah-olah dibuat setelah surut. Aku pulang membawa beberapa ekor ikan yang rencananya ingin aku jadikan makan malam.
Aku menyusul Chelsea di kebun celosia, dan aku dapat melihatnya duduk seranggung di hadapan bunga celosia jengger ayam, seolah-olah hendak menikmati wanginya hingga tidak ada yang tersisa, dan ketika aku mendekat, ia segera mendongakkan kepala dan berjalan—dengan setengah berlari—kepadaku. Langit sore mulai berubah merah dan aku tertegun memandang senyumnya yang membelakangi matahari. Chelsea menyukai bunga-bunga celosia sejak ia tahu—dari Nenek Hora yang membuka kedai teh di dekat sini—bahwa bunga-bunga pusparona itu bernama celosia. Mirip dengan namaku, katanya, semingrah. Cantiknya juga, bukan?
Aku tersenyum dan mengelus rambutnya. Tidak. Tidak secantik kamu.