Saat Sekoci sampai di pelabuhan, dan kami diperbolehkan turun, aku mengira kami sampai di pulau tidak berpenghuni, dan yakin ukurannya cukup untuk menampung kami semua, yang jumlahnya pun tidak seberapa, mungkin ratusan—aku tidak terlalu pasti. Akan tetapi, rupanya, ada beberapa penghuni lain. Penduduk setempat tinggal di bagian utara pulau. Kami sebagai pengungsi, menempati bagian selatan saja. Aku heran kenapa mudah sekali mereka menerima kami, tanpa prasangka, apalagi niat buruk. Rasa heranku semakin menjadi-jadi ketika aku bertanya mengenai mahabanjir yang membuat kami harus berlayar selama bertahun-tahun. Tidak ada satu pun penghuni pulau yang tahu atau mengingat mengenai banjir itu, padahal kami yakin satu dunia tenggelam, dan Sekoci-Sekoci yang entah dari mana datangnya, mulai bermunculan, untuk menyelamatkan kami dan segala yang tersisa. Hanya sedikit yang tersisa, sebab sebagian besar berhasil kami dorong jatuh ke jurang kepunahan. Para penduduk malah teringat kisah Manu dalam cerita yang umurnya sudah setua waktu, yang melibatkan Ikan Brahma bercahaya perak, tetapi kisah itu terjadi ratusan—bahkan ribuan—tahun lalu. Para penduduk sudah mempersiapkan kedatangan kami sejak lama sekali, seolah-olah mereka memang menunggu kami, dan membangun pondok-pondok yang indah untuk kelak kami tempati. Konon, ada semacam ramalan yang mengatakan bahwa suatu saat nanti akan ada saudara dari dunia lain—dan yang dimaksud dunia lain pun tidak sama dengan dunia baka—atau akhirat—melainkan orang-orang yang berasal dari ruangwaktu atau kemungkinan yang berbeda. Singkat kata, orang-orang yang datang dari semesta alternatif. Dunia lama itu, memang sudah punah, ya? Meski tidak ada apa pun yang patut diperjuangkan dari kehidupan yang dulu, aku tetap saja merasa sedih.
Berbeda dengan dunia kami, di pulau ini, semuanya digerakkan dengan sumber daya dari surga—yakni angin dan matahari—termasuk lampu-lampu yang menyala di rumah kami, dan mobil pikap, serta bus kecil yang kerap kami temukan menggelinding di jalan yang selalu menanjak dan menurun. Nyaris tanpa suara, kecuali roda yang berputar-putar di aspal. Tetapi ada pula yang mempertahankan cara hidup lama dengan menggunakan gerobak, sepeda, atau delman. Karena segala sesuatunya murah—kami tidak perlu mengisi bensin atau membayar listrik—uang jadi kurang relevan di sini. Di antara semuanya, justru inilah yang membuatku paling susah beradaptasi. Aku jadi canggung ketika dibantu atau diberi secara cuma-cuma, dan tidak dapat berhenti memikirkan bagaimana cara membalasnya—dan apakah balasanku setara. Aku sering merasa bersalah. Betapa mudahnya jika ada uang. Chelsea sebaliknya, ia cepat sekali terbiasa, dan menerima saja setiap pemberian tanpa prasangka. Setiap kali menerima sesuatu, ia mengucapkan terima kasih—malah belakangan ia membalik kata terima kasih banyak menjadi terima banyak kasih. Terkadang ia juga memberi anak-anak mahkota bunga yang dirangkainya dari kelopak bunga-bunga layu—atau kalau musim layu belum datang, ia menggantinya dengan gambar. Ia sangat pandai menggambar.
Beberapa minggu sekali—aku tidak terlalu mempedulikan waktu, tapi sepertinya dua mingguan—ada penjual buku keliling yang menukar buku dengan buku. Aku selalu menanti-nantikan kedatangannya. Aku terkejut, meski ini dunia lain, buku-buku yang ditawarkan tidak terlalu berbeda dengan duniaku yang lama. Aku masih dapat membaca Shakespeare, Salinger, atau bahkan Jostein Gaarder — bayangkan betapa gembira aku dapat berjumpa dengan Sophie dan Cecillia lagi. Ketika aku sampai di pulau ini, aku hanya membawa empat buah buku, sekarang—entah bagaimana—aku seperti dapat membangun perpustakaanku kembali.
Ketika pertama kali menjejakkan kaki di pulau, kami tidak membawa apa pun selain barang bawaan kami yang tidak seberapa, dan beberapa penduduk—dengan bahasa yang kami mengerti—mengantar kami menuju desa baru kami, di sebelah selatan pulau, lengkap dengan pondok-pondok yang kelak menjadi pondok kami. Setelah mengucapkan banyak sekali terima kasih, sekaligus merasa bingung terhadap nasib kami yang terlalu baik untuk dapat dipercaya, kami bertanya di manakah kami akan tinggal, dan para penduduk itu menjawab, bahwa di desa ini mereka sudah menyiapkan banyak sekali pondok, lengkap dengan segala kebutuhan yang sekiranya kami butuhkan untuk dapat hidup dengan layak, dan kami diperbolehkan secara bebas memilih yang mana pun kami suka. Chelsea dan aku memilih untuk memasuki hutan kecil yang dipenuhi pepohonan berdaun lebar, sementara teman-teman kami—yang kami maksud adalah sesama pengungsi—memilih rumah-rumah yang kali pertama mereka temukan. Saat berjalan di hutan itu, kami mendapati pepohonan besar dengan pepagan yang berlapis-lapis, yang sepertinya sudah tua sekali umurnya, sayangnya aku tidak tahu namanya, tetapi aku bertekad mencaritahunya nanti, saat waktu dan keadaan sudah memungkinkan, tetapi mula-mula aku harus menggambarnya. Aku bertanya kepada Chelsea, apakah aku boleh beristirahat di sini—sebentar saja—tetapi ia sudah mengenal aku dengan sangat baik, sehingga tahu maksud terselubungku. Aku membawa dua buah buku yang aku maksudkan sebagai jurnal harian, yang aku isi dengan sangat hati-hati, sebab selama berada di dalam Sekoci, aku tidak tahu berapa lama kami harus berlayar, tetapi rasanya sayang juga kalau aku tidak mencatat segala peristiwa dan pengalaman dengan detail yang sedetail-detailnya, sebab kapan lagi aku bisa mengalami sesuatu yang mendekati akhir zaman—kalau bukan benar-benar akhir—sehingga, sehemat apa pun aku menggunakan buku-buku ini, dengan tulisan yang sekecil itu, tetap saja tidak butuh waktu lama untuk terisi penuh. Aku agak takut menulis di ponsel, sebab kalau ponsel ini rusak, bisa-bisa semuanya menghilang—aku agak berhati-hati juga menggunakannya. Sebab, meski tidak ada akses Internet, tetap saja data-data berharga tersimpan di dalam benda kecil ini. Termasuk kenangan.