Pondok Kecil di Lembah Celosia

Rafael Yanuar
Chapter #3

Kata yang Melampaui Waktu

Aku ragu kami dapat tidur nyenyak pada malam pertama kami di pondok ini, sebab selama bertahun-tahun—kelak, kami sadar tidak selama itu, hanya dua tahun kurang, atau malah satu setengah tahun—kami hidup di perut Sekoci yang terombang-ambing di permukaan samudra, tapi rupanya kami tidur nyenyak sekali, seperti mati, tidak diganggu mimpi. Ketika kami terjaga, jendela masih membentangkan kelam dan aku menduga malam belum benar-benar berlalu—tidak ada jam di sini—tapi entah bagaimana Chelsea tahu bahwa fajar sebentar lagi menyingsing, dan dugaannya benar, kira-kira satu jam—tapi aku tidak terlalu yakin juga—kami mendapati langit yang semula gelap, mulai berwarna nila, dan segera saja matahari yang malas-malasan itu membuka matanya jua.

Aku tidak tahu dari mana datangnya pengetahuan itu, tetapi ketika aku menanyakannya kepada Chelsea, ia hanya menjawab, saat hujan tidak turun, ia sering naik ke buritan kapal dan memandangi langit. Ia tidak tahu untuk apa, tetapi memandang langit dapat menenangkan pikirannya yang berkecamuk.

Di depan pondok—tepatnya agak ke samping—ada sumur tua yang semalam entah bagaimana tidak kusadari keberadaannya. Aku membuka tutup sumur dan memandang ke dalamnya. Sepertinya cukup dangkal. Setelah mengambil seember air, aku mencicipinya setangkup, seperti ada campuran asin dan manisnya, tipis-tipis saja, tidak terlalu mengganggu, dan rasanya segar sekali. Tapi aku tidak berani menelannya. Aku belum tahu apakah air ini bisa diminum langsung atau tidak. Namun, karena air persediaan yang kami bawa dari Sekoci tinggal sedikit, aku memasukkannya dalam panci besar yang aku temukan terpacak di dinding bata dekat pintu, kemudian menjerangnya di pawon hingga mendidih, lalu mengangin-anginkannya. Aku membayangkan, pasti enak rasanya kalau ada teh dan gula. Kami dapat mengawali hari dengan menyesap secangkir besar teh manis yang masih mengepul.

Aku juga mengambil air untuk disimpan dalam ember kosong di kamar mandi. Lumayan juga rasanya. Aku jarang bekerja keras selama tinggal di Sekoci, hanya menunggu jam makan dan tidur. Memang, agar badan tidak jadi lembam, aku berlatih push up setiap hari, tetapi lama-lama yang setiap hari itu menjadi seminggu sekali, lalu sebulan sekali, dan akhirnya aku jadi terlalu malas untuk melakukannya lagi. Otot-ototku jadi kendur, sehingga memindahkan beberapa ember air ke kamar mandi langsung membuat napasku terengah-engah. Tetapi aku menyukainya juga. Ada perasaan senang dan lega dapat bergerak dan berkeringat. Apalagi cuaca di desa lumayan dingin, barangkali kalau malam angka di termometer jatuh di belasan—tetapi sekarang paling-paling 24 derajat Celcius. Dingin, tapi mudah dihangatkan dengan gerak.

Lagi-lagi aku memetik buah-buahan sebagai bahan bersantap. Memang mengenyangkan, tapi kami butuh variasi. Di sungai terkadang aku melihat ikan-ikan berenang, dan sepertinya mudah ditangkap, tapi saat aku menjulurkan tangan, mereka ternyata lihai sekali berenang—tentu saja!—dan membuatku senewen. Chelsea—ia baru saja mandi—yang melihatku dari kejauhan menahan tawanya. Aku tahu ia menahan tawanya. Dan saat aku tertawa terbahak-bahak, dengan badan sudah mencebur separuh ke dalam air, ia pun tidak lagi takut menyinggung perasaanku dan ikut tertawa. Kata Chelsea, di dalam lemari ada peralatan pancing yang mungkin bisa aku gunakan untuk menangkap ikan. Ia menunjuk batu sebesar anak domba di sebelah sana, yang sepertinya adalah titik memancing yang tepat dan nyaman—juga airnya lebih dalam. Aku belum pernah memancing, dan asal saja mengaitkan jambu ke kail, tetapi rupanya ikan-ikan di sini cukup polos, sehingga aku yang belum berpengalaman dapat memancingnya seember penuh. Aku memamerkan hasil pancingku kepada Chelsea. Ia tersenyum bangga kepadaku, tetapi kemudian ia berkata, alangkah lebih baik melepas separuhnya lagi ke sungai. Toh kita hanya butuh dua. Aku pun tersadar dan menuruti perintahnya.

Karena belum ada bumbu dapur, setelah menyisiki sisiknya dan membuang jeroannya, Chelsea membakarnya begitu saja di samping api. Kami menyantapnya dengan sepiring buah. Aneh betul, tapi ternyata nikmat juga. Aku betul berhati-hati ketika mengambil buah-buah jambu, takut kalau-kalau ada ulat bulu lagi, juga mengikuti apa kata Chelsea agar tidak berlebihan—ambil secukupnya saja. Saat ini, kami betul-betul bergantung hanya kepada alam. Dulu, aku beranggapan alam itu kejam, namun, semenjak tinggal di pondok, aku yakin—benar-benar yakin—tidak ada yang lebih lembut daripada alam. Ia menyediakan segalanya, tetapi dengan rendah hati masih bertanya, adakah yang kurang? Kami toh tinggal meminta. 

Lihat selengkapnya