Pondok Kecil di Lembah Celosia

Rafael Yanuar
Chapter #4

Hujan Masa Kecil

Sejak masih kecil, aku sudah terpesona dengan kunang-kunang, malahan aku memang tertarik pada serangga—termasuk juga yang berjenis antropoda. Setiap mengunjungi rumah Nenek, aku selalu membawa toples berbagai ukuran yang memenuhi bagasi mobil kami. Chelsea juga ikut bersama kami. Namun, sesampainya kami di sana, aku hampir selalu mengabaikannya sepanjang siang, sebab terlalu asyik bermain di sawah dan hutan, berburu capung, belalang, dan kupu-kupu, juga serangga-serangga yang tidak aku tahu namanya, tapi jumlah kakinya enam, jadi aku tidak mungkin salah mengenalinya. Meski sudah ada ponsel, dan aku dapat bertanya kepada Google, entah mengapa aku lebih suka mencari nama-nama serangga di setoples di ensiklopedia. Di ruang tamu, ada lemari khusus berisi ensiklopedia. Berjilid-jilid banyaknya. Aku mengambil semua yang bertema serangga atau antropoda, lalu membawanya ke kamar, dan dengan bermodal buku-buku tersebut, aku mencari tahu serangga apa yang berhasil aku tangkap. Chelsea melarangku membawa masuk kotak-kotak seranggaku, dan orang tuaku, entah mengapa, membelanya, tetapi aku pun tidak keberatan. Aku tahu ia tidak suka serangga. Aku pun, saat tumbuh dewasa, mulai menjaga jarak dengan serangga. Entah sejak kapan, aku mulai geli melihat mereka. Tetapi aku masih suka menggambarnya, dan karena sudah terasah sejak kecil, gambar seranggaku bagus.

Chelsea lebih suka bermain di halaman rumah Nenek yang luas, dengan kebun yang dipenuhi bunga-bunga pusparona, yang kemudian ia pindahkan ke berlembar-lembar buku gambar. Nenek sangat menyukai Chelsea, malah aku curiga ia lebih menyukainya daripada aku—cucunya sendiri—tapi aku tidak keberatan, malah bersyukur. Bunga dan serangga memang sesuatu yang langka di kota kami, yang udaranya senantiasa berwarna kuning, dan langitnya kelabu. Jadi, ketika kami mengunjungi rumah Nenek, kami benar-benar memanfaatkan tiap detik yang kami lalui.

Kamar keluarga kami terletak di lantai dua, menghadap langsung ke jalan, dengan jendela besar di belakang sebuah meja yang sepertinya dipakai Kakek atau Nenek untuk menulis. Ada setumpuk buku catatan di pojoknya, juga tiga jilid Alkitab. Chelsea sangat suka membaca Alkitab. Setiap ada waktu luang, aku selalu melihatnya membacanya, dan ia selalu membawa Alkitab Perjanjian Baru (yang juga dilengkapi Mazmur dan Amsal) di dalam tas selempangnya.

Ada tiga buah kasur—satu berukuran besar, dua sisanya single. Tetapi rumah Nenek memang besar sekali, hampir-hampir seperti hotel, dan kalau aku ingat-ingat lagi, rasanya terlalu berlebihan, padahal Kakek dan Nenek hidup berdua saja—dan kelak, setelah Kakek meninggal, rumah itu jadi terasa dua kali lebih luas. Tetapi anak-anaknya yang tumbuh besar dengan sukses cenderung bersikap berlebihan. Karena Kakek dan Nenek tidak mau ikut dengan mereka—dan memilih tetap tinggal di desa masa kecil mereka—mereka patungan membeli tanah di kiri dan kanan, kemudian membangunnya—serta menyediakan satu kamar untuk masing-masing keluarga. Nenek mempunya enam orang anak. Jadi, rumah itu memiliki enam kamar untuk masing-masing keluarga dan semuanya berukuran luas, dengan satu kamar mandi di dalam kamar—tetapi Ibu meminta kamarnya tidak perlu dilengkapi dengan kamar mandi—kamar Nenek dan Kakek terletak di lantai bawah, dan satu kamar tambahan untuk pembantu rumah tangga. Totalnya delapan kamar! Malahan, para keluarga sudah berencana membangun lantai ketiga untuk para cucu yang sudah menikah, tetapi kemudian dihentikan Nenek.

Lihat selengkapnya