Jawa Tengah, Tahun 2050
Tidak pernah terbayang di pikiran seorang Elea Nareswari untuk benar-benar mengikuti kata otaknya yang telah berputar berkali-kali belakangan ini. Ia akhirnya menginjakkan kaki di kampung halaman Ibunya, sebuah desa di pinggir Kota Purworejo, bernama Banjar. Perempuan berhijab yang baru menginjak masa dewasa itu sudah tidak lagi kuat menghadapi hidupnya yang menerima cinta secara minimal dari kedua orang tuanya selama bertahun-tahun. Kedatangan Elea kali ini pun tanpa sepengetahuan mereka. Bisa dikatakan, Elea kabur dari rumahnya di Jakarta.
“Assalamualaikum, Pak Lik Hendra?” Elea sedikit meninggikan suaranya di depan pintu side-to-side dari kayu jati berukir. Pintu itu seperti keadaan luar rumah—nampak rapuh. Sudah terlalu lama Elea tidak mengunjungi rumah milik Kakeknya tersebut. Berbekal ingatan yang agak buram, Elea nekat menaiki travel dan lanjut dengan ojek pengkolan yang dibayar Elea empat kali lipat karena harus berputar-putar sesuai ingatan Elea tersebut.
Satu kali salam tidak ada jawaban. Elea kembali bersuara lantang. Leher dan dahinya sudah dipenuhi keringat. Rasanya ia ingin segera mandi air dingin lalu tidur dengan puas.
“Kowe nggoleki sopo, Nduk?” Terdengar suara yang cukup akrab di telinga Elea dari sampling rumah. Meski lahir dan besar di Jakarta, Elea sedikit mengerti Bahasa Jawa. Mata Elea membola. Itu Kakeknya.
“Kakek!” Perempuan itu lantas berlari cepat ke arah Pria baya dengan rambut yang sebagian besar telah memutih karena uban. Elea memeluk Kakek yang sangat ia sayangi tersebut. Tentunya, Kakek juga sangat menyayangi Elea—bahkan lebih dari orang tuanya sendiri. “Kakek nggak lupa sama Elea, kan?” tanyanya setelah melepas peluk.
Kakek tersenyum. “Cucu Kakek yang centil ini mana mungkin Kakek lupa.” balasnya sambil mencubit pipi Elea. Hal itu justru membuat mata Elea berkaca-kaca. Ia sudah berjanji tidak mau mencurahkan kemelut hatinya pada Kakek yang sedang sakit, tapi sepertinya Elea akan mengingkari janji itu. Melihat wajah Kakek saja, jantung Elea sudah akan mencelos.
“Kakek kenapa ada di luar?” Elea menggandeng Kakek untuk masuk melalui pintu belakang, yang ternyata sebelumnya digunakan Kakek untuk keluar rumah.
“Kakek sudah lihat kamu dari jendela, tapi pintu depan dikunci Pak Lik-mu. Jadi, Kakek lewat pintu dapur saja.” jawab Kakek yang sesekali terbatuk.
Kakek memang tinggal bersama adik laki-laki Ibunya yang bernama Hendra. Kebetulan, Hendra dan istrinya—Retno, selama belasan tahun hidup tanpa anak. Menurut cerita yang pernah Elea dengar dari Ibunya, Pak Lik Elea tersebut memilih untuk mengabdi pada Kakek setelah kepergian Nenek dengan harapan Tuhan akan memberinya anak suatu hari nanti.
“Tapi kenapa Kakek nggak ngenalin aku tadi?”
Kakek tersenyum lagi. “Kakek kira kamu nggak mengerti Bahasa Jawa, Nduk. Jadi, sudah mengerti sekarang?”
“Aku tahu sedikit-sedikit, Kek.” timpal Elea. Kini mereka sudah berada di dapur rumah Kakek yang beralas tanah. Meski tak lagi menggunakan kayu bakar untuk memasak, namun nuansa dapur itu masih khas pedesaan. Tidak banyak yang berubah dengan yang terakhir kali Elea ingat. Saat masih SMP, Elea pernah mengunjungi Kakek dan tinggal di rumah itu selama satu minggu. Sejauh ingatan Elea, ia justru menerima kebahagiaan yang tidak pernah didapatkannya ketika hidup di Jakarta sehingga rasa bahagia itu terus menempel dalam ingatan Elea sampai usianya 19 tahun saat ini.
“Kamu sudah makan, Nduk?” tanya Kakek.
“Belum. Bu Lik masak apa?” Sesuai karakternya yang cuek, Elea tanpa segan membuka tudung saji di atas meja makan kayu. Hanya ada Tempe Goreng dan Sambal Terasi yang tersisa sedikit di sana. Lagipula, apa yang diharapkan Elea? Ia datang tanpa pemberitahuan. Tentu Pak Lik dan Bu Lik-nya tidak menyiapkan apapun.
“Mau masak Mie?” tawar Kakek. Mata Elea berbinar, lalu ia mengangguk cepat.
Namun, baru saja Elea membuka bungkus Mie Instan, sosok Hendra dan Retno muncul dari arah ruang tamu dengan ekspresi terkejut.