“Mau kemana, Lea?”
Pagi ini Elea merasa tubuhnya sudah jauh lebih baik setelah tidur lebih dari 8 jam. Ia harus keluar dari rumah untuk melihat-lihat lingkungan Desa Banjar. Meski ada perubahan, namun sekilas di mata Elea tidak nampak signifikan. Itu artinya, Elea akan mendapat suasana sejuk, nyaman, dan membuat kemelut di pikirannya sirna—seperti saat Elea datang ketika SMP.
“Jogging sebentar, Bu Lik,” jawab Elea sambil mengikat sepatu running-nya. Ia sudah siap dengan setelan olahraga dilengkapi topi dari brand mewah kesayangannya.
“Ndak sarapan dulu?” Kali ini pertanyaan itu muncul dari Hendra yang baru masuk ke area dapur sembari meletakkan peralatan berkebun di dekat pintu.
“Pak Lik udah habis dari sawah, ya? Padahal aku mau ikut. Mau ke sungai.”
“Belum. Pak Lik baru mau berangkat. Kamu sarapan dulu saja, Lea. Nanti ke sungai bareng Pak Lik,” jawab Hendra. Pria itu pun duduk lalu menyeruput kopi hitamnya yang masih panas.
“Aku nanti aja, deh. Tadi udah makan coklat satu potong sama minum susu kotak dari bekalku. Oh ya, Kakek dimana?”
“Tadi ke samping rumah, kasih makan Gundul,” jawab Retno.
“Gundul?” Elea membelalak.
“Kucing punya Nenek. Sekarang Gundul sudah tua, sudah ikut-ikutan sakit. Tapi, Kakek sangat telaten merawatnya,” ujar Hendra membuat Elea membulatkan mulut. Kakek memang penyayang, jadi ia tidak terkejut kalau Kakek juga menyayangi hewan piaraannya. “Tunggu aku selesai jogging ya, Pak Lik.”
Tanpa menunggu respon dari Hendra, Elea melengos pergi. Namun teriakan Retno membuat langkah perempuan dengan hijab bahan jersey warna hitam itu berhenti.
“Jangan lewat pasar ya, Lea! Kamu belum tahu jalan di situ, takut kesasar!”
Dahi Elea mengernyit. Seingatnya, dalam jarak setidaknya 1 kilometer dari rumah Kakek tidak ada pasar. Tapi larangan itu justru membuat Elea penasaran. Lagipula ia juga ingin membeli jajanan pagi khas Desa Banjar.
Pukul 06:30 matahari sudah memunculkan wujudnya meski malu-malu. Elea mulai pemanasan ringan, kemudian memainkan latar belakang instrumental alam yang selalu menjadi temannya saat lari pagi. Ia baru akan melangkah ketika ingat bahwa dirinya sekarang sedang berada di pedesaan yang asri sehingga tidak memerlukan instrumental alam tersebut. Setelah mematikannya, Elea baru benar-benar bergerak ke arah jalan.
Rumah-rumah tetangga Kakek perlahan ia lewati. Tak jarang ia disapa oleh para tetua yang tengah berangkat aktivitas—tentunya dengan Bahasa Jawa. Elea mungkin sedikit mengerti namun cukup sulit baginya untuk membalas dengan Bahasa yang sama. Desa Banjar kebanyakan dihuni oleh petani. Sama seperti Hendra, mereka juga akan berangkat ke sawah dan ladang pagi-pagi sekali. Elea pun berpapasan dengan anak-anak yang riang gembira berangkat ke sekolah menggunakan sepeda. Benar-benar terlihat seperti gambaran pedesaan asri di mata Elea dan itulah yang membuat hati Elea hangat. Rasanya ia ingin terus tinggal disini.
Keringat di dahi Elea mengalir ringan. Tanpa terasa, ia sudah berlari hampir sepuluh ribu langkah. Elea menepi untuk menenggak air putih dari Tumbler yang memang ia bawa sejak awal. Sambil menyeka keringat, sudut mata Elea menangkap seseorang mendekatinya perlahan.
“Kamu cucunya Kakek Aryo, kan?”
Alis Elea tertaut. Ia terus mendengar orang-orang berbahasa Jawa, namun sekarang Bahasa Indonesia jadi terdengar aneh di lingkungan yang sama. Orang itu nampak masih muda seperti seumurannya. Sorot matanya teduh. Tapi, Elea tetap harus waspada. Maka dari itu, ia memundurkan tubuhnya satu langkah.
“Maaf, Mas-nya kenal sama Kakek saya?” tanya Elea.
“Oh ya, maaf, saya yang kurang sopan.” Orang itu mengulurkan tangannya ke arah Elea. “Perkenalkan, saya Rifky. Kakek dan Nenek saya saudara jauh dari Kakek Aryo,” katanya.