Rasanya Elea masih tidak percaya bahwa dirinya sedang duduk di ruang tamu sebuah rumah asing. Suasana rumah itu memang membuatnya merinding, namun entah bagaimana Elea juga merasakan kehangatan. Ditambah lagi dengan kehadiran Pria paruh baya yang tidak berhenti memberinya senyum ramah. Sebagai seseorang yang lumayan perfeksionis, Elea terbiasa memperhatikan detail kecil sekitarnya. Rumah itu punya beberapa koleksi benda klasik seperti radio, mesin tik, kamera, dan telepon putar. Pandangannya sempat berhenti cukup lama pada jam dinding yang tak bergerak di angka 10 lewat 20 menit.
“Mau mengubah masa lalu siapa? Orang tua? Kakak? Adik?”
Elea terlonjak mendengar suara yang menggema di tengah keheningan ruang tamu tersebut.
“S-saya… Saya butuh penjelasan tentang penawaran Bapak itu. Apa ini seperti film yang saya tonton? Pemeran utamanya melakukan perjalanan waktu, begitu?” ujar Elea.
“Kalau begitu, biar Saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya Eduard Jansen. Kamu bisa panggil Meneer Ed. Saya pemilik rumah ini, tentu saja.”
Elea baru sadar kalau ada logat Belanda pada nada bicara Pria tersebut setelah ia memperkenalkan namanya.
“Lalu…”
“Lalu, kebetulan kamu menemukan rumah ini dan untuk merayakannya, saya memberi kamu penawaran istimewa. Tidak semua orang mendapat kesempatan ini. Bisa mengubah masa lalu seseorang yang kamu sayangi, bukankah itu kesempatan spesial?” ucap Meneer Ed.
“Kenapa bukan masa lalu saya sendiri? Kenapa harus orang lain?”
Meneer Ed tertawa kecil. Bulu kuduk Elea berdiri mendengar suara tawa yang lirih tersebut. Ah, apakah keputusan Elea masuk ke rumah asing ini memang benar? Atau jangan-jangan ia akan masuk ke alam gaib dan menjadi tumbal pesugihan? Rasanya isi kepala Elea sangat ramai sekarang sehingga membuatnya pusing.
“Sekarang izinkan saya bertanya, apakah ada masa lalu kamu sendiri yang ingin diubah?” tanya Meneer Ed dengan ekspresi serius. Bola mata Elea sedikit berputar untuk mencari jawaban itu. Kalau ada yang harus diubah dari hidupnya, hanya dengan Elea tidak pernah dilahirkan dari rahim Dita lah penderitaannya selama ini akan hilang. Di sisi lain, Elea tetap ingin menjadi keluarga Kakek Aryo yang begitu menyayanginya.
Elea menelan ludah. “Saya rasa tidak ada.” tukasnya lemah.
“Kalau begitu, kamu ingin mengubah masa lalu Kakekmu?”
“Apa?” Elea membelalak. Pikiran itu belum muncul sama sekali tetapi Meneer Ed seolah tahu apa yang terjadi pada hidupnya sekarang. “Kenapa harus Kakek? Bukan, kenapa Meneer Ed tahu soal Kakek? Saya belum cerita apa-apa.” protesnya.
Meneer Ed yang mengenakan setelan Jawi Jangkep dominan warna merah marun itu berjalan sedikit menjauhi Elea. “Sebelum kamu yakin untuk mengubah masa lalu seseorang, kamu harus mengetahui syaratnya.”
“Syarat apa?”
Meneer Ed membalikkan badan, lalu menatap mata Elea lurus-lurus. “Kamu hanya bisa mengubah masa lalu dengan menggunakan barang milik orang tersebut, dimana barang itu digunakan pada masa yang sama dengan masa yang ingin kamu ubah.”
Elea terdiam sesaat, memikirkan satu syarat yang cukup berat baginya. Kalau memang ia akan menuruti saran Meneer Ed untuk mengubah masa lalu Kakek, di tahun berapa dan dengan barang apa? Lantas, masa lalu yang bagaimana yang akan diubah Elea?
“Sepertinya saya harus memikirkan ini sebentar. Boleh saya minta waktu?”
“Tidak bisa,” jawab Meneer Ed tegas. “kesempatan kamu hanya sekarang dalam waktu 22 menit saja.”
Mata Elea membola. Ternyata ada syarat yang lebih sulit lagi.
“Tapi, ini bukan keputusan yang harus saya putuskan dengan cepat. Ini mengenai kehidupan manusia.” protes Elea.
“Itu adalah peraturan yang harus dipatuhi.”
Elea membuang nafas kasar. Ia berpikir kalau rumah Belanda ini tidak masuk akal. Mungkin benar ia akan menjadi tumbal pesugihan. Memikirkan kemungkinan itu membuat bulu kuduk Elea berdiri..
“Kalau begitu, terima kasih atas penawarannya.”
Elea beranjak dari kursi kemudian berjalan keluar dari rumah Belanda klasik tersebut. Namun, baru sampai teras, langkahnya terhenti. Perempuan itu menggigit kuku di jari telunjuknya. Ia ingat berita soal Pemerintah yang menetapkan peraturan baru soal pesugihan. Sudah ada beberapa orang yang tertangkap lalu dijatuhi hukuman. Sebagai gantinya, Pemerintah membuka lapangan pekerjaan yang sangat banyak untuk orang-orang di Desa. Cara itu pun berhasil membuat praktek pesugihan berhenti total. Jadi, tidak ada alasan bagi Meneer Ed untuk menjadikannya korban pesugihan saat ini.