Terdengar suara denting jam di dinding kamar ketika Elea duduk di atas tempat tidurnya. Cahaya bulan yang masuk dari jendela kamarnya menyoroti setengah wajah putih pucat Elea. Ia melamun. Tepatnya memikirkan kejadian pagi ini yang terasa tidak nyata. Semua terjadi begitu cepat. Berulang kali Elea menghela nafas. Entah ini keputusan yang tepat atau tidak, yang pasti ia sudah terlanjur menyetujui syarat dari Meneer Ed.
“Lea, sudah tidur?”
Ketukan pintu membuat lamunan Elea buyar.
“Belum, Bu Lik.” jawabnya sambil menghampiri pintu. Saat pintu kamar itu dibuka, Retno tersenyum.
“Kakek lagi ngobrol sama Rifky di depan. Lea mau gabung? Katanya Rifky sudah ketemu Lea tadi pagi.” ucap Retno. Benar juga, Elea baru ingat kalau Rifky akan datang ke rumah Kakek sore ini.
“Boleh, Bu Lik. Aku ganti baju dulu.”
“Sebelum ke ruang tamu, ambil buah potong dulu di atas meja makan ya, Lea. Buat dimakan sama-sama.”
Elea merespon dengan anggukan sebelum kemudian mendadak ingat sesuatu, “oh ya, Bu Lik!”
“Ada apa?”
“Rifky dulu sering main ke sini, ya?” tanya Elea penasaran.
“Sebelum kerja di Cikarang, Rifky memang bisa dibilang teman Kakek juga. Anaknya supel, nurut sama orang tua, sering bantu-bantu juga. Ndak tahu kenapa, kalau ngobrol sama Kakek kok ya, nyambung aja. Kamu lupa sama Rifky, Nduk?” Retno menebak.
“Jujur… iya, Bu Lik. Aku cuma ingat Rifky waktu SMP suka ke sini buat minta makan.”
Kalimat Elea membuat Retno tertawa. “Kamu ini, lucu sekali, Lea. Itu bukan minta makan, Kakek memang suka berbagi apa yang ada di rumah. Karena adanya nasi dengan lauk, ya Kakek cuma bisa kasih itu buat Rifky.” tukas Retno.
“Ah, begitu ternyata.” Elea mengusap belakang lehernya, merasa malu.
“Bu Lik malah ingatnya Lea suka nangis karena dijahili Rifky.”
“Hah? Ada kejadian begitu juga, Bu Lik?”
“Lha, iya. Tapi justru sering dijahili makanya Lea jadi dekat sama Rifky sampai sering video call juga, ya toh?”
Diam-diam, Elea setuju. Ia cukup ingat Rifky tapi melupakan wajahnya sehingga saat bertemu tadi pagi, Elea tidak langsung mengenali.
“Ya sudah, ndang ganti baju. Nanti keburu tamunya pulang.”
Setelah Retno beranjak, Elea buru-buru mengganti piyamanya dengan rok denim berbentuk line A serta oversized tunik polos. Tak lupa pashmina berbahan viscose yang menutupi seluruh rambutnya. Sepiring buah potong yang isinya Melon dan Apel itu akhirnya mendarat di meja ruang tamu. Elea menyapa Rifky ramah, lalu duduk di sebelah kursi Kakek Aryo.
“Kamu masih ingat Rifky kan, Nduk?” tanya Kakek.
“Masih, masih ingat, kok.”
Rifky tersenyum jahil. “Ingat kalau aku suka minta makan sama Kakek, katanya.”
“Ah, bukan gitu maksudnya.” Elea panik. Kakek tertawa mendengar selorohan dua anak muda tersebut.
“Maaf ya, ternyata bukan kamu minta makan. Tapi emang Kakek aja yang suka sedekah.” ujar Elea.
“Udah tahu cerita aslinya sekarang?”
“Hm, udah. Dari Bu Lik Retno.” jawab Elea hati-hati.
Obrolan itu berlanjut seru. Rifky yang terlihat santun di mata Elea ternyata bisa menceritakan kenangannya saat kecil dengan penuh semangat. Meski Elea hanya berkunjung ke Desa Banjar satu kali semasa SMP, ternyata banyak hal yang terjadi begitu indahnya namun tidak semua terekam jelas di ingatan Elea. Berkata Rifky-lah, Elea bisa kembali merasakan kebahagiaan singkat itu.
“Makasih banyak ya, Ky.” Elea mengantar Rifky sampai teras rumah setelah laki-laki itu berpamitan pada Kakek.
“Makasih buat apa, Lea?”