Ponsel Usang Kakek

Zata Amanila
Chapter #5

BAB 5

Halo?

Jemari Elea saling meremas begitu ia mendengar suara Pria di seberang teleponnya. Suara itu jelas milik Kakek Aryo, hanya sedikit lebih lantang namun lembut secara bersamaan. Tentu saja, Kakek Aryo yang detik ini akan bicara dengannya adalah Aryo Wicaksono muda. Tetapi, rasanya Elea masih sulit percaya. Mungkin ia perlu memastikan dengan benar bahwa dirinya sedang terhubung dengan Kakeknya entah di tahun berapa.

“Halo. Selamat malam,” sapa Elea dengan hati-hati.

“Ini siapa, ya? Tidak ada nama di kontak saya.”

Elea bergeming selama beberapa detik. Kini ia tahu kalau yang muncul di ponsel Pria itu masih berupa nomor telepon.

“Saya Elea… cucu Anda.”

“Cucu?”

“Benar. Anda Aryo Wicaksono, kan? Apa saya perlu menyebutkan nama orang tua Anda juga supaya Anda percaya?” Elea mulai lebih percaya diri dari sebelumnya.

“Tolong jangan bercanda. Saya masih muda. Dari mana saya punya cucu kalau saya belum punya anak?” ujar Pria itu. Elea bersorak dalam hati. Ia berhasil memancing untuk mendapat satu persatu fakta bahwa benar ia sedang menjalani skenario Meneer Ed.

“Kalau begitu, saya bisa bilang nama Bapak Anda adalah Cahyo Sugandi. Nama Ibu Anda Sekarwati. Keduanya menikah karena cinta, bukan perjodohan. Tapi, mereka justru ingin menjodohkan Anda padahal Anda sedang mencintai wanita lain. Sampai sini bagaimana? Cukup percaya kalau saya benar-benar cucu Anda?”

Sepertinya Aryo muda sedang berpikir keras karena ia terdiam cukup lama. 

“Tidak masuk akal!”

“Benar. Kedengarannya aneh. Saya juga nggak percaya awalnya bisa menelepon Kakek saya saat muda. Kalau boleh tahu, sekarang tahun berapa?” tanya Elea.

“Kalau kamu masih bercanda, saya akan tutup teleponnya sekarang.”

“Tidak boleh!” Elea berteriak. Ia menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. Jangan gegabah, Elea. Lima menit ini sangat berharga, bisiknya pada diri sendiri.

“Maaf, kalau sikap saya kurang ajar. Biarkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Elea Nareswari. Usia saya 19 tahun. Ibu saya Dita Ayuningtyas, anak kandung Anda. Sekarang saya menelepon di tahun 2050 dengan HP milik Anda yang saya temukan di bawah lemari kamar Anda,” jelas Elea.

“Saya butuh mengetahui tahun berapa saat ini. 2005? 1999? atau—”

“Apa kamu pikir saya akan memberitahu hal-hal konyol seperti itu? Sebenarnya siapa kamu?” Aryo muda memotong cepat kalimat Elea dengan tekanan nada.

Tubuh Elea tiba-tiba saja gemetar. Ia butuh tenang dengan cepat sekarang. 

“Baik, kalau saya bisa menebak dengan benar, apa Anda akan mendengarkan saya sampai selesai?” 

Aryo muda memberi jeda sejenak, lalu membalas, “Saya tidak punya waktu untuk hal-hal seperti ini.”

“2003. Saya benar, kan?”

Aryo muda itu mendecih. “Apa kamu sudah selesai bermain-bermain? Saya akan benar-benar menutup teleponnya.”

“Belum! Tolong dengarkan saya baik-baik karena saya sedang dikejar waktu dan hanya akan mengatakannya satu kali,” tukas Elea. 

Tidak ada jawaban. Elea melirik jam dinding lagi. Percakapan itu sudah berlalu hampir 3 menit. Ia harus memanfaatkan 2 menit yang tersisa untuk meyakinkan Aryo muda. Anggaplah tebakan Elea benar. Artinya, Kakek Aryo di seberang telepon itu sekarang berusia 26 tahun. Kalau Elea tidak salah mengingat dari cerita Kakek Aryo ketika ia SMP, 2003 adalah tahun pernikahan dengan Nenek Yanti. Tapi, kapan tepatnya pernikahan itu terjadi? Bulan apa? Tanggal berapa? Ah, kepala Elea jadi sakit.

“Saya paham kalau ini tidak terdengar masuk akal. Tapi, saya bisa ceritakan satu pengalaman berkesan Anda saat kecil.”

Elea mengambil nafas panjang.

“Waktu usia 10 tahun, Anda demam dan besoknya Anda harus menjalani ujian sekolah. Anda bermain di halaman rumah dengan tetangga Anda yang bernama Timo, kalian melempari pohon Mangga di halaman itu sampai Tawon menyengat kelopak mata kiri Anda. Anda dan Timo tidak melihat ada sarang Tawon di pohon itu. Makanya mata Anda jadi bengkak dan karena malu, akhirnya Anda tidak masuk sekolah,” jelas Elea.

Sudut bibirnya tertarik mengingat pengalaman yang pernah diceritakan Kakek itu padanya. Untung saja Elea masih menyimpan cerita tersebut di otaknya—bahkan masih hafal nama teman Kakek ketika itu. Dengan begini, ia bisa meyakinkan Pria di seberang teleponnya untuk percaya.

“Timo itu bukan asli orang Jawa. Dia keturunan Lombok dan keluarganya pindah ke seberang rumah Anda karena mutasi pekerjaan Bapaknya Timo. Kalian jadi sahabat baik tapi sejak Timo kembali ke Lombok, Anda tidak tahu lagi kabarnya sampai sekarang.” Elea mencoba menambahkan fakta yang ikut diceritakan Kakek Aryo dulu.

“Apa Bapak menyuruh kamu mengerjai saya?” Aryo muda mencoba menebak.

“Kakek buyut sudah meninggal sebelum saya lahir,” jawab Elea. 

“Meninggal?”

“Iya.. Intinya, saya bukan penguntit, bukan juga orang yang ingin berbuat jahat. Kalau saja kita bisa melakukan video call, Anda akan langsung percaya kalau saya berasal dari masa depan. Tapi HP Anda ini nggak bisa dipakai untuk panggilan video, kualitas kameranya masih buram. Belum ada aplikasi chat juga.”

Mendadak, Elea ingat kalau dirinya punya informasi tambahan lain.

“Oh ya, HP Anda sekarang Nokia 3650 warna hitam dan ada…” Elea memperhatikan sebuah stiker yang menempel di bagian belakang ponsel usang itu sambil menyipit sebab stikernya sudah luntur.

“Ada stiker gambar Teddy Bear coklat. Benar, kan?”

Tidak ada jawaban lagi. Mungkin Aryo muda sedang mencerna dengan baik berbagai informasi dari Elea.

“Ah, yang pasti, tahun 2003 ini Anda menentukan sebuah keputusan besar untuk hidup Anda. Jadi, tolong angkat telepon saya juga besok. Saya cuma punya 5 menit untuk mengobrol dan saya nggak akan basa-basi karena saya akan memberi tahu siapa perempuan yang akan menghancurkan hidup Anda. Anda dengar, kan, Kakek?”

Lihat selengkapnya