Ponsel Usang Kakek

Zata Amanila
Chapter #6

BAB 6

“Nggak pernah ada rumah yang dibangun di situ, Lea. Dari kita kecil sampai detik ini.”

Jantung Elea berdegup kencang satu kali menyadari ada yang salah. Ia sangat yakin rumah Belanda Meneer Ed ada di depannya, tepat di belakang Pasar. Tapi sekarang hanya ada ilalang tinggi dan rumput liar.

“Nggak mungkin.” Elea menatap Rifky tajam.

“Aku berkata jujur, Lea. Memang nggak ada rumah di situ.”

Lalu, dimana Elea bertemu dengan Meneer Ed kalau bukan di rumah Belanda itu? Atau jangan-jangan rumah itu sudah dihancurkan? Sudah dibongkar? Rasanya terlalu banyak pertanyaan di benak perempuan itu dalam waktu bersamaan. Kaki Elea melangkah perlahan mendekati ilalang tinggi. Ia ingin memastikan bahwa setidaknya ada bekas pondasi rumah di sana.

“Elea, kamu mau kemana?”

Perempuan itu tidak menggubris panggilan Rifky. Tangannya mulai bergerak menyingkirkan ilalang yang menghalangi. Ilalang itu tingginya hampir mencapai pinggang Elea. Tanahnya juga lembap seperti sudah lama tidak diinjak siapa pun, bahkan tidak ada bekas jalan setapak. Seingat Elea, tepat dimana kakinya berpijak saat ini adalah teras rumah Belanda Klasik. Kejadian itu belum berlalu lebih dari dua hari, aneh jika ia sudah lupa setiap bagian dari rumah yang selalu membuat bulu kuduknya berdiri. Elea memejamkan mata kencang-kencang. Harapannya pupus karena ia tidak menemukan bekas pondasi rumah atau sejenisnya di antara ilalang tersebut. Ia membuang nafas kasar lalu kembali ke tempat Rifky berdiri.

“Kamu cari apa sebenarnya? Bahaya lho, di situ nggak kelihatan apa-apa, takut ada ular.” Suara Rifky terdengar khawatir. Elea menggeleng.

“Maaf, ya. Mungkin aku halu. Tapi, kenapa kita bisa lewat sini tadi?” tanya Elea.

“Aku udah ajak lewat jalan utama tapi kamu malah jalan ke arah sini. Mungkin karena sambil ngobrol. Salahnya aku nggak cegah kamu sama sekali dan ikut aja.”

Elea sulit mempercayai apa yang dikatakan Rifky. “Jadi maksud kamu aku jalan ke arah sini tanpa aku sadari?”

Rifky tidak langsung merespon, justru ia menatap lurus-lurus mata Elea. Seperti sedang berbicara melalui sorot itu. Sekejap kemudian, laki-laki itu mengangguk lemah.

“Kamu nggak apa-apa kan, Lea?”

Elea menelan ludah dalam-dalam. “Nggak apa-apa. Yuk, jalan.”

Kaki Elea lebih dulu melangkah tanpa menunggu Rifky. Pikirannya sungguh kacau, seakan ia sedang mengalami hal-hal misterius. Kemungkinan kalau hanya dirinya yang bisa melihat rumah Belanda milik Meneer Ed mulai hinggap. Hal itu lebih masuk akal karena sejak awal pun kekuatan untuk bicara dengan seseorang di masa lalu memang sudah diluar nalar.


***


Acara malam penggalangan dana Desa Banjar sudah berjalan setengahnya. Sejak awal kedatangan, Elea langsung disibukkan dengan berbagai kegiatan, mulai dari ikut membungkus makanan ringan untuk dibagikan pada anak-anak Yatim Piatu yang diundang, menjaga suasana selama acara berlangsung agar tetap kondusif, sampai menjadi pembawa acara pada segmen permainan berhadiah. Elea memang sudah berpengalaman. Seperti yang ia ceritakan pada Rifky, mengkoordinir acara sejenis sudah ia lakukan berulang kali sehingga dirinya tidak lagi terkejut. Kesibukan itulah yang membuat Elea lupa sejenak tentang rumah Belanda milik Meneer Ed.

Menjelang acara selesai, tiba-tiba Hendra muncul. Elea tahu kalau Pak Lik-nya itu salah satu pengurus Balai Desa, jadi sudah tentu kehadirannya tidak terasa aneh. Sampai akhirnya, Hendra memberi tahu sesuatu sebelum penutupan acara di atas panggung dan di hadapan banyak orang yang hadir.

“Terselenggaranya acara penggalangan dana hari ini, tidak luput dari dukungan dari salah satu pendiri perusahaan kosmetik terkenal di Jakarta bernama Ayuning Beauty yaitu Ibu Dita Ayuningtyas."

Degub jantung Elea kontras dengan suara tepuk tangan yang menggema di Balai Desa Banjar. Tatapan Elea dengan Hendra bertemu sesaat hingga Hendra mengalihkannya lebih dulu.

“Sebanyak 50 juta rupiah sudah diberikan kepada Yayasan Yatim dan Dhuafa Al Ikhlas Desa Banjar dari Ibu Dita. Kebetulan saya sudah menyampaikannya secara langsung kepada Bapak Faldi selaku pemilik Yayasan tersebut dan prosesnya juga sudah diketahui beberapa saksi termasuk Ibu Dita sendiri. Saat ini Ibu Dita tidak bisa memenuhi undangan untuk hadir ke acara karena sedang melakukan perjalanan dinas. Semoga dengan adanya bantuan tersebut bisa membantu adik-adik di Yayasan.” Hendra menjelaskan panjang lebar.

“Aku dikasih tahu Pak De Hendra katanya Ibu Dita Ayuningtyas itu Ibu kamu ya, Lea?” Rifky bersuara di sebelah Elea.

“Wah, kejutan besar banget ya,” ujar Elea sarkas.

Ia ingin sekali bicara dengan Hendra saat ini juga tapi ia lebih ingin menghubungi Ibunya untuk meminta penjelasan. Bukan terkait donasi, melainkan hal lain. Pikiran negatif Elea berhamburan. Ia pamit ke toilet pada Rifky meski nyatanya Elea hanya bersembunyi di belakang Balai Desa yang sepi untuk membuka ponselnya.

Ada keraguan sejenak saat melihat nama di kontaknya. Elea tidak menamainya ‘Ibu’ atau ‘Mama’ dan sejenisnya tetapi ‘Dita Ayuningtyas Terhormat’. Begitu suara yang sering menjadi penyebab traumanya itu terdengar, Elea menahan nafas.

“Akhirnya kamu mau menelepon Ibu lagi, Lea.”

“Pergi dinas kemana?” tanya Elea tanpa basa basi.

Lihat selengkapnya