Elea masih berkutat dengan buku catatan ketika cahaya dari laci meja side bed-nya muncul. Ia memastikan jarum jam dinding yang menunjukkan pukul 22:15 menit. Alis Elea mengerut. Kemarin ponsel itu juga mengeluarkan cahaya sebelum waktu telepon masa lalu. Jangan-jangan, Elea bisa mengutak atik ponsel itu seperti sebelumnya?
Buru-buru Elea beranjak untuk mengambil ponsel usang di laci. Sekejap kemudian, bibirnya tersungging. Perkiraannya benar, ia bisa membuka menu di ponsel tersebut. Elea duduk di pinggir kasurnya lalu menghela nafas dalam-dalam. Kali ini ia membuka menu kontak.
“Seenggaknya ada nomor telepon Nenek Yanti yang disimpan di sini,” kata Elea yakin.
Jempol Elea asik menekan keypad huruf untuk langsung mencari nomor kontak Yanti. Ia sempat terdiam sesaat mengingat nama panjang Neneknya itu, lalu bergerak lagi. Sesekali Elea mengeluh karena keypad ponsel usang tersebut cukup keras bagi seseorang seperti Elea yang hidup di jaman serba layar sentuh mudah.
“Yan… Ti… War… Dani…” Elea mengeja nama Neneknya.
Setelah menekan tombol tanda panah ke bawah, dahi Elea mengernyit.
“Kok nggak ada? Tadi ‘Yanti’ doang juga nggak ada?” protesnya.
Telunjuk kanan Elea menepuk-nepuk sisi ponsel tersebut sambil ia berpikir keras. Perempuan itu mulai memikirkan kemungkinan kalau nama Nenek Yanti diganti oleh Kakek Aryo karena kondisi mereka yang sedang backstreet. Jadi, ia keluar dari menu Kontak dan beralih ke menu Pesan Singkat.
Elea menemukan beberapa nama di sana. Satupun tidak ada nama Yanti. Elea frustrasi karena ia terdesak oleh waktu sebab jika tidak, ia ingin membaca satu persatu pesan singkat yang ada di sana untuk menemukan pesan yang dikirim Yanti. Tidak mungkin bukan kalau seseorang yang jatuh cinta tidak berusaha mendekati orang yang dicintai melalui ponselnya?
Elea sudah menyerah. Tetapi, ia justru menemukan hal yang dicarinya. Karakteristik SMS pada ponsel awal tahun 2000-an tidak seperti aplikasi obrolan di ponsel layar sentuh. Sebab dalam menu SMS, siapa yang sering mengirim pesan, maka akan semakin banyak juga nama yang tertera. Di ponsel usang Kakek Aryo, ada banyak nama yang sama memenuhi menu Kotak Masuk SMS tersebut dan namanya adalah Mbak Warkop. Awalnya Elea melewati begitu saja nama itu tetapi kalau dilihat lagi, cukup banyak pesan dengan nama tersebut.
“Tapi bisa aja karena Kakek jaman mudanya suka nongkrong di Warkop.” Elea menebak-nebak.
Hanya saja, semakin dipikirkan justru semakin janggal bagi Elea. Akhirnya ia membuka secara acak satu pesan dari Mbak Warkop tersebut di Kotak Masuk.
“Kalau Mas benar mencintai Yanti, bawa Yanti pergi dari Desa ini.”
Mata Elea membola dan nafasnya tercekat. Tepat ketika itu, ponsel usang Kakek Aryo memunculkan kembali tulisan,
Hubungi orang tersayang Anda sekarang dan bicara selama 5 menit.
Kesadaran Elea belum kembali sepenuhnya sementara waktu untuk berbicara dengan Aryo muda sudah tiba. Elea masih mencerna SMS yang dikirim oleh Mbak Warkop tersebut. Ia mendecih. Ternyata kecurigaannya benar. Kakeknya menyembunyikan nama kontak Nenek Yanti dengan nama lain. Namun yang lebih membuat kaget dirinya adalah permintaan untuk kawin lari ternyata bukan inisiatif Kakek Aryo.
Elea menempelkan ponsel usang itu ke telinganya.
Dering pertama…
Dering kedua…